BISNIS SAMBILAN

Friday, 22 April 2011 (17:07) | 774 pengunjung | 7 komentar | Print this Article

Oleh : Naijan Lengkong—Ketua Umum Agupena—

“Keadaan kita tidak mungkin seperti ini terus, Mas. Kenapa tidak mencoba untuk mencari usaha sambilan? Bisnis apa sajalah, yang penting bisa menghasilkan uang untuk menutupi kebutuhan kita. Mas ‘kan masih punya banyak waktu luang. Hari minggu seperti ini juga bisa dimanfaatkan untuk cari-cari peluang.“ kudengar istriku berceloteh sambil mencuci piring di belakang.

“Bisnis apa lagi sih? Aku ini ‘kan cuma seorang guru. Guru Bahasa Indonesia lagi. Jadi tidak punya keahlian lain selain mengajar Bahasa Indonesia. Kecuali kalau aku guru Matematika atau Bahasa Inggris, mudah saja aku mengajar sambilan, les atau privat misalnya. Lagipula waktu luangku selama ini aku gunakan untuk menulis cerpen atau artikel. Dan menulis itulah bisnis sambilanku selama ini karena memang itulah keahlianku.“

Aku diam sejenak menunggu reaksi istriku. Kutengguk habis sisa the manis buatan istriku yang ada dihadapanku. Aku tidak mendengar tanggapan darinya. Lalu kulanjutkan pembelaaku : “ Kamu juga harus maklum, mana ada sih guru yang kaya dari hasil mengajar? Paling jual warisan kalau mau cepat kaya. Itupun kalau masih ada. Lha kalau aku ini warisan darimana? Harta warisan keluargaku sudah habis sebelum aku dilahirkan. Penulis juga sama. Mana ada penulis yang kaya raya dari hasil tulisannya. Kalaupun ada biasanya penulis tua yang sudah puluhan tahun malang – melintang di dunia kepengarangan. Sedangkan aku belum sepuluh tahun jadi penulis, itupun penulis sambilan. Apalagi masa krisis seperti sekarang ini. Surat kabar kebanyakan lebih mengutamakan pemuatan tulisan yang tidak meminta honor. Tulisan yang dimuat saat ini kebanyakan orang-orang lama yang memang telah lama dikenal dan dekat dengan redaktur.“

“ Mas ini bagaimana sih? Kok pasrah begitu? Pak Burhan, teman Mas mengajar itu bisa kaya tanpa jual warisan. Punya mobil, rumah besar dan barang-barang mewah. Mas Joni, temanmu yang wartawan itu juga kaya. Malah punya villa di Puncak. Pak Burhan itu guru. Mas Joni itu penulis. Mereka bisa kaya, Mas sendiri ‘ kan guru dan juga penulis, kenapa tidak bisa seperti mereka?“

Burhan? Joni? Bah! Muak aku mendengar nama mereka. Orang lain boleh kagum pada mereka. Tapi aku, nanti dulu. Bagiku, Burhan dan Jono adalah para bajingan tengik. Burhan adalah guru yang paling brengsek yang pernah kukenal selama sepuluh tahun menjadi guru. Dia datang ke sekolah pada pagi hari untuk setor muka dan mengisi absensi. Terus menitipkan tugas pada guru piket untuk anak-anak dikelas. Lalu dia pergi entah kemana. Kedunianya sendiri tentunya. Alasannya macam-macam, bisnis ini atau bisnis itu. Sampai bubaran sekolah dia tidak pernah kembali lagi. Lalu datang pada pagi hari berikutnya dan pergi lagi. Begitulah setiap hari. Mengajar penuh di sekolah paling satu hari dalam satu minggu. Satu bulan sekali dia memberi ulangan pada siswa-siswanya, walaupun tidak pernah dikoreksinya. Lalu dia minta para ketua kelas mengumpulkan sejumlah uang yang alasannya untuk biaya fotokopi soal-soal. Padahal untuk fotokopi soal dia sudah minta uang pada bendahara sekolah yang selalu berbaik hati padanya. Anehnya kepala sekolah tidak pernah menegurnya. Kalau aku jadi kepala sekolah, sudah kutendang jauh-jauh guru brengsek itu.

Lalu Joni, dia tak lebih seorang bandit yang berwajah wartawan. Aku masih sangsi apakah wartawan seperti dia itu tahu kode etik jurnalistik atau tidak. Beberapa waktu yang lalu dia berhasil memeras seorang kepala desa yang diketahui menjual satu hektar tanah bengkok kepada pengembang perumahan di daerah kami. Dia mengancam akan memberikan skandal ini di surat kabar tempatnya bekerja kalau kepala desa itu tidak memberikannya sejumlah uang. Jumlahnyapun tidan tanggung-tanggung. Lima puluh juta rupiah. Joni menang. Walaupun dongkol, sang Kepala Desa memberikan uang itu. Ini lebih baik ketimbang dia masuk penjara dan uangnya yang jumlahnya hampir setengah miliar itu harus disita. Pernah pula Joni memeras seorang kepala sekolah menengah negeri yang terbukti menyelewengkan dana sumbangan pendidikan. Melalui seorang staf disekolah itu, yang ternyata adalah kawan baiknya. Joni berhasil membuktikan adanya penyelewengan dana itu. Dan dia berhasil menjarah separuh dari jumlah uang yang telah diselewengkan oleh Kepala Sekolah tersebut, yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah. Terakhir dia berhasil memergoki seorang pejabat Pemda yang sudah dikenalnya sedang berselingkuh dengan istri bawahannya dikantor. Joni memang sudah lama mengincarnya. Dan untuk memyumbat Joni sang pejabat terpaksa mengeluarkan uang jutaan rupiah. Joni selalu berhasil menaklukan korbannya dengan ancaman akan membeberkan skandal mereka di surat kabarnya. Melihat perilaku jurnalistiknya itu, bagiku Joni itu adalah pelacur jurnalistik.
*****

“Tadi Pak Syukur datang “

Aku tertegun menatap istriku.

“Ada apa dia datang? Tidak biasanya dia datang tanpa kabar terlebih dahulu. Sewa rumah kita ‘ kan masih dua bulan lagi?“

“Dia bilang sewa rumah ini tidak bisa diperpanjang lagi. Katanya rumah ini mau dijual. Dia butuh uang mendesak untuk biaya pengobatan istrinya dan untuk biaya kuliah anaknya. Pembeli sudah ada.“

Aku bungkam, Pikiranku tiba-tiba jadi kacau. Tidak pernah terpikir dalam benakku kalau kami harus pindah rumah secepat itu. Satu bulan sebelumnya aku bertemu dengan Pak Syukur di rumahnya. Kami telah sepakat bahwa aku akan memperpanjang sewa rumah untuk dua tahun berikutnya dan akan kulunasi uang sewanya satu bulan setelah masa kontraknya yang lama berakhir. Aku sengaja minta tenggang waktu karena harus menunggu turunnya uang pinjaman dari koperasi sekolah.

Tapi kalau begini kondisinya, darimana aku dapat uang untuk mencari rumah kontrakan yang baru? Selain itu, Jamal anak pertama kami sudah sekolah di Taman Kanak-kanak yang lokasinya berdekatan dengan tempat tinggal kami. Itu berarti kami harus mencari rumah sewa baru yang letaknya tidak terlalu berjauhan dari tempat tinggal yang sedang kami tempati agar memudahkan Jamal bersekolah. Dan itu tidak mudah, apa lagi mencari yang murah seperti rumah Pak Syukur.

“Sayang yah, Mas, kalau kita tinggalkan rumah ini, “ ucap Istriku lirih.

“Seandainya kita ada uang, alangkah enaknya kalau kita yang membeli rumah ini.“

Kata-kata istriku itu betul-betul menusuk perasaanku. Seakan-akan dia menyesali ketidakmampuanku. Walaupun begitu aku tahu bahwa dia tidak bermaksud untuk itu.
*****

Burhan hanya tertawa lebar ketika aku bercerita tentang masalah yang sedang aku hadapi. Entah apa yang ditertawakannya. Yang jelas aku memang ingin mencari peluang bisnis sambilan. Dan satu-satunya teman yang bisa aku andalkan adalah Burhan. Mungkin itu sebabnya Burhan menertawakan diriku. Aku yang selama ini selalu menolak diajaknya berbisnis, diajak naik mobil sedan menterengnya saja, yang konon dia bilang hasil bisnis sambilan itu, aku tidak pernah mau, Itu karena aku memang pernah tersinggung oleh kata-katanya dulu. “Kau ini jadi guru janganlah terlalu idealis. Kalau terlalu idealis, kau tidak akan bisa makan enak, punya rumah, dan kendaraan pribadi. Selamanya kamu tinggal di rumah kontrakan. Bepergian naik bus umum berdesakan. Makanpun sekenanya, cuma nasi dan ikan asin.“ Begitulah dia pernah bilang.

“Sudahlah, kau jangan berpikir macam-macam. Aku ada peluang kalau kau memang mau serius. Kemarin ada seorang bos datang padaku. Di bilang sedang mencari telepon genggam dalam jumlah besar untuk show roomnya. Dia butuh seribu unit. Masalah harga bisa diatur. Yang penting barangnya ada dulu. Dia sanggup bagi komisi sebesar lima puluh persen dari total transaksi”.

Aku terbelalak. “Seribu unit telepon gengggam dengan komsi lima puluh persen?“

‘Iya, kenapa?“

“Mana ada orang mau bagi komisi sebesar itu?“

“Kenapa tidak? Rudi Ramli bos Bank Bali berani kasih komisi lebih dari lima puluh persen buat Setya Novanto dan kawan – kawannya.

Nominalnya lebih dari lima ratus miliar alias setengah triliun rupiah. Sedangkan komisi buat kita, kalau ini berhasil, tidak lebih dari lima ratus juta rupiah”.

“Tapi mencari orang yang menjual telepon genggam dalam jumlah sebanyak itu tidak mudah. Apalagi di masa krisis seperti sekarang ini.“

“Itulah. Makanya dia berani kasih komisi besar buat kita.“

“Kenapa dia tidak beli langsung ke pabrik?“

“Kau ini. Dia itu ingin beli dengan harga miring. Dan dia dapat itu hanya dari jalur mediator. Mereka pasti tahu jalurnya.“
Aku mengerti sekarang. Satu-satunya kawan yang bisa aku hubungi dalam masalah ini adalah Joni. Dan ternyata Joni memang sangat antusias ketika aku paparkan semua pesanan yang aku dapatkan dari Burhan. “Tunggulah dua hari lagi, aku akan hubungi kamu lagi.‘ katanya meyakinkan. Dua hari kemudian Joni memang menepati janjinya. Dia datang sambi membawa beberapa lembar foto ukuran postcard.

“Ini foto sebagian dari barang-barang yang ditawarkan. Jumlahnya tepat seribu buah seperti yang kau pesan.“

Aku berdecak kagum melihatnya. Ratusan telepon genggam yang tersusun rapi terpampang disana. Berarti angan-anganku hampir menjadi kenyataan. Hari itu juga foto-foto itu aku serahkan kepada Burhan untuk kemudian diteruskan kepada calon pembeli.

Keesokan harinya, Ahmad, guru Agama Islam datang menemuiku di kantor guru.

“Kamu ikut bisnis sama Burhan, Jan?” tanyanya.

“Iya, memangnya kenapa?”

“Kalau masih ada cara lain, janganlah ikut-ikutan bisnis sama dia. Dia itu mafia. Salah-salah kamulah yang celaka.”
Aku hanya tersenyum dan tidak menggubris kata-katanya. Aku pikir dia pasti iri melihat keberhasilan aku dan Burhan.

“Terserah kaulah Jan. Aku cuma mengingatkan. Itu juga kalau kamu mau terima.” katanya lalu meninggalkanku. Akupun kemudian tak mempedulikannya lagi.

Kemudian setelah melalui lobi yang panjang dan alot dengan perantaraan Burhan dan Joni, tercapailah kesepakatan jual beli, termasuk kesepakatan tentang komisi untuk kami bertiga.

Pada hari yang telah disepakati, Joni menjemputku dirumah. Hari itu adalah hari yang menentukan masa depan kami. Istriku nampak ceria mengiringi kepergianku. Joni langsung membawaku kerumah penjual yang terletak di sebuah perumahan elit di Jakarta Selatan, dimana transaksi jual beli akan dilakukan. Ketika sampai dirumah besar dan mewah itu, kami disambut oleh empat laki-laki berpakaian necis dan parlente. Semuanya berbadan tegap dan kekar. Tidak berapa lama kemudian Burhan datang disertai calon pembeli. Kamipun diperkenalkan oleh Burhan kepada dua orang yang menyertainya. Orang yang pertama bertubuh gendut layaknya seorang bos. Sudiro, demikianlah dia memperkanalkan diri. Yang satunya lagi nampaknya memang pengawalnya, karena berbadan tegap dan kekar serta menenteng koper besar yang kami duga berisi uang karena berdasarkan kesepakatan pembayaran dilakukan secara kontan.

Sebelum transaksi dimulai, kami dipersilahkan melakukan pengecekan atas seluruh barang yang akan dibeli. Kami kemudian dipersilahkan memasuki sebuah ruangan besar di bagian belakang rumah yang lebih mirip sebagai gudang. Ketika memasuki ruangan yang berukuran kira-kira sepuluh kali sepuluh meter persegi itu aku benar-benar terpana. Ditengah-tengah ruangan terdapat ratusan telepon genggam yang tersusun rapi diatas rak kayu. Pak Sudiro meminta pengawalnya menghitung jumlah barang yang ada.

“ Angan-anganmu untuk membeli rumah sendiri akan kesampaian, “ bisik Burhan di telingaku. Aku memang masih gugup melihat pemandangan di depanku. Terasa mimpi saja. Ternyata tidak sukar bagiku mendapatkan uang ratusan juta rupiah dalam waktu hanya beberapa hari saja. Terbayang dibenakku kegembiraan anak-anak dan istriku bermain dirumah baru dan besar yang kubeli dari hasil bisnis sambilan.

Baru saja Pak Sudiro selesai melakukan perhitungan, tiba-tiba terdengar pintu depan didobrak orang dan serombongan orang bersenjata menerobos ke ruang belakang melalui ruang tamu.

“Angkat tangan! jangan bergerak!“

Kami semua terhenyak. Jantungku berdetak keras. Sepintas terpikir dalam benakku bahwa kami sedang dirampok. Tapi sebagaian dari mereka berseragam polisi sehingga aku berpikir lain.

“Semua tetap ditempat! Tempat ini telah kami kepung!“

Kami semua tidak terkutik karena puluhan laras senjata api mengarah pada kami. Serentak kami digeladah dan diborgol. Aku menggigil. Kini aku semakin yakin bahwa ini adalah penggerebekan. Anehnya Pak Sudiro tidak diborgol. Dia malah kelihatan tersenyum puas. Dan orang yang berlagak sebagai pengawal itu malah ikut menggeledah seisi rumah dan mengeluarkan borgol dari sakunya dan menyarungkan ketangan salah seorang penghuni rumah itu. Dengan kasar mereka menggelandang kami satu persatu keluar rumah menuju mobil kijang patroli yang sudah siap di depan rumah itu. Dari sana kami dibawa ke kantor polisi terdekat.
*****

Setelah melalui introgasi yang lama dan melelahkan, sadarlah aku bahwa kami dijebak. Pak Sudiro berpura-pura ingin membeli barang-barang itu. Yang sebenarnya adalah Pak Sudiro itu anggota polisi yang sedang menyamar. Sedangkan teman-teman Joni adalah para perampok yang telah menjarah barang-barang itu dari gudang milik seorang pengusaha pemasok handphone. Dan dengan taktiknya itu Pak Sudiro memang telah berhasil menemukan barang-barang curian itu dan sekaligus menjebak kami. Dan kini Aku, Burhan, dan Joni harus meringkuk di sel bersama dengan para perampok itu. Sesuatu yang tidak pernah terbayang dalam benakku, bahkan dalam mimpi sekalipun. Ya Tuhan, kenapa jadi begini? Ingin rasanya aku menjerit dan menangis sekeras-kerasnya membahayakan ini semua. Dan tangisku memang benar-benar tidak dapat dibendung ketika istriku datang untuk menjengukku untuk pertama kalinya sampai menuntun Jamal yang masih berseragam sekolahnya dan menggendong Jamilah puteri bungsuku.

TAMAT

Tulisan lain yang berkaitan:

imgNaijan, Sang Nakhoda Agupena yang Berjiwa Sosial Tinggi (Friday, 22 April 2011, 917 pengunjung, 7 respon) Oleh Deni Kurniawan As’ari —Guru dan Pegiat Agupena Jateng— Lahir di Tangerang 28 Agustus 1969. Lulus IKIP Jakarta tahun 1990. lalu...
imgWarni Ingin Pulang ke Kampung Halaman (Friday, 19 November 2010, 727 pengunjung, 1 respon) Cerpen Sawali Tuhusetya Warni tercenung di kamarnya. Dadanya tiba-tiba sesak. Benaknya jatuh ke tempat yang jauh. Ia rindu Emak, Bapak, dan adik...
Tulisan berjudul "BISNIS SAMBILAN" dipublikasikan (Friday, 22 April 2011 (17:07)) pada kategori Fiksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0.
Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!

Enter your email address:

Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itRedditTechnoratiBlinklist
DesignfloatDiigoMixxMeneameFurlMagnolia

7 Responses to "BISNIS SAMBILAN"

  1. Isi cerpen ini bagus, berupa sindiran terhadap orang-orang yang senang jalan pintas dan menhalalkan segala cara. Tuntu kita sebagai guru jangan terjebak pada hal-hal semacam itu.

    Mohamad Juri, S.Pd.,MMPd
    Guru di Omben kab. Sampang Jawa Timur.
    Mohamad Juri,S.Pd.,MMPd recently posted..MEWASPADAI PERMAINAN NEGATIF PILKADA LANGSUNGMy ComLuv Profile

    [Reply]

  2. Nasin Elkabumaini, M.Pd. says:

    Saya adalah seorang guru di Borneo Child Aid Society Sabah, sering juga menjadi juara di Pusbuk, tapi ada satu hal yang belum kesampaian, yaitu menulis skrip atau skenario film atau sinetron. Saya mau berguru pada Bang Naijan. Kalau lebaran pulang, di mana saya bisa menghubungi Bang Naijan. Trims.

    [Reply]

  3. begitulah nasib. bagaimana jika hampir kebanyakan guru di sekolah kita seperti perilaku johan?
    karena menreka mengharapkan gaji bulanan tidak pernah cukup. bukan gaji rendah. tapi harga2 tidak bisa distabilkan pemerintah. sungguh nasib buruk dan kemurungan sisi lain dunia pendidikan kita…

    salam,

    [Reply]

  4. Naijan says:

    Salam kenal untuk Pak Nasin. Pak Nasin bisa kontak saya di 08128036835. Kita bisa janjian nanti. Salam Agupena.

    [Reply]

  5. Naijan says:

    Pak Idrus, memang itulah realitas dunia pendidikan kita. Apalagi di daerah terpencil. Ini adalah salah satu potret carut-marut dunia pendidikan kita. Pe-er kita semua. Semoga pendidikan kita lebih baik kelak.

    [Reply]

  6. Wa’alaikum salam. Syukran, Bang Naijan. Insya Allah saya akan contact antum.

    [Reply]

  7. Habip says:

    Jiah.. kainbal toh, sosok kainbalnya terlalu dadakan bro. Coba dikasih rincian sedikit

    [Reply]

Komentar Anda?

CommentLuv Enabled

«
»