<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agupena &#124; Asosiasi Guru Penulis Indonesia</title>
	<atom:link href="http://agupena.org/wp/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agupena.org/wp</link>
	<description>Asosiasi Guru Penulis Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Nov 2011 07:55:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Penerapan Cooperative Learning pada Materi Melukis</title>
		<link>http://agupena.org/wp/2011/11/13/penerapan-cooperative-learning-pada-materi-melukis/</link>
		<comments>http://agupena.org/wp/2011/11/13/penerapan-cooperative-learning-pada-materi-melukis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 07:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[cooperativ learning]]></category>
		<category><![CDATA[Roto]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupena.org/wp/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[ROTO, S.Pd., M.Pd. Ketua Agupena Cabang Kabupaten Semarang Menurut Paul Klee, seni tidak menggambarkan sesuatu yang dilihat namun harus menjadikan terlihat. Seni bukan sekedar refleksi hal-hal yang kasat mata, tetapi dari inner word (alam batin/alam kejiwaan yang semula tidak tampak menjadi tampak). Dengan kata lain, seni bukan sekedar pernyataan kembali kenyataan dari alam, melainkan perwujudan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ROTO, S.Pd., M.Pd.</strong><em><br />
Ketua Agupena Cabang Kabupaten Semarang</p>
<p><img alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_JfyaaRjM3ms/TOPi8Wx6bXI/AAAAAAAAAFc/3UpIeEJZRbk/s200/Roto-spd1.jpg" class="alignleft" width="200" height="184" />Menurut Paul Klee, seni tidak menggambarkan sesuatu yang dilihat namun harus menjadikan terlihat. Seni bukan sekedar refleksi hal-hal yang kasat mata, tetapi dari inner word (alam batin/alam kejiwaan yang semula tidak tampak menjadi tampak). Dengan kata lain, seni bukan sekedar pernyataan kembali kenyataan dari alam, melainkan perwujudan dari sesuatu yang semula tidak berwujud, seperti suasana batin gembira, marah dan sebagainya (dalam Suwaji Bastomi, 1992: 10).</p>
<p>Pemahaman sederhana pengertian seni lukis adalah ungkapan olah rasa/olah batin yang diwujudkan dengan media utama pewarna. Pewarna yang dapat digunakan meliputi cat air, cat kayu, cat tembok, krayon, dan cat minyak. Pada dasarnya semua orang dapat melukis. Persoalannya terletak pada kualitas karya.</p>
<p>Penekanan utama melukis adalah memberi keleluasaan pada peserta didik agar berani mengekspresikan jiwanya sebebas-bebasnya. Dapat diartikan mewujudkan seni untuk seni (fine art) dalam arti mewujudan karya lukisnya tanpa menghiraukan atau tidak mempertimbangkan kegunaan, melainkan mementingkan kebebasan jiwa untuk mencapai kepuasan.</p>
<p>Jiwa yang diungkapkan bisa pengalaman batin yang dirasakan saat itu. Misalnya pengalaman kegembiraan atau pengalaman menyedihkan. Dan atau menangkap kejadian yang sedang in diluar dirinya. Misalnya tentang bencana banjir Wasior, musibah kecelakaan kereta api, kecelakaan lalu lintas, peristiwa demonstrasi, suasana sekolah, suasana pasar, dan lain-lain.<br />
<strong><br />
Penerapan Cooperative Learning</strong><br />
Pada kesempatan ini, penulis hendak memaparkan materi melukis media utama pewarna krayon/pastel pada siswa tingkat SMP/MTs dengan penerapan metode cooperative learning (belajar kelompok). Pendekatan metode cooperative learning dapat diartikan suatu cara belajar dengan membentuk kelompok antara 4 sampai dengan 5 orang peserta didik.</p>
<p>Penelitian dari Trish Baker dan Jill Clark menyatakan: “… bahwa pengembangan keterampilan tim adalah hasil paling penting dari pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif dalam banyak hal terlihat lebih efektif daripada metode pembelajaran individu dan pembelajaran kompetitif (Ayhan Dikici, 2006).</p>
<p>Dengan pendekatan metode cooperative learning dalam menyajikan materi melukis, diharapkan peserta didik dapat menemukan cara yang tepat untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar (KBM) dan kualitas praktik melukis. Selanjutnya peserta didik dapat melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru berkait dengan materi melukis khususnya dan materi seni rupa pada umumnya mampu meningkat secara signifikan.</p>
<p>Adapun langkah-langkah penerapan metode cooperative learning materi melukis yang dapat dijadikan rujukan adalah melalui tahapan: Pertama, menjelaskan pengertian seni lukis dan dilanjutkan mendemonstrasikan proses melukis serta menunujukkan alat peraga berupa contoh hasil lukis koleksi internasional, nasional dan koleksi karya siswa pada periode sebelumnya. Dengan menunjukkan karya lukis peserta didik tahun sebelumnya dapat merangsang siswa berikutnya.</p>
<p>Kedua, menjelaskan pengertian cooperative learning. Buatlah kelompok belajar dengan cara menggabungkan meja kursi posisi melingkar, antara 4 sampai dengan 5 orang. Ketiga, menjelaskan sifat-sifat pewarna dan cara penggunaannya. Pewarna krayon mempunyai sifat mengkilat, menyala dan tekstur kasar.</p>
<p>Cara penggunaannya, buatlah sketsa dengan pensil sesuai tema yang ditentukan. Setelah sketsa sesuai perteballah dengan spidol hitam. Warnailah dari warna tua menuju ke warna terang. Keempat, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya tentang arti melukis, proses membuat sketsa (menggambar) dan proses mewarna (melukis).</p>
<p>Setelah siswa memahami penjelasan guru, selanjutnya guru menentukan tema melukis dan siswa mulai mengerjakan. Mengingat waktu yang tersedia perminggu hanya 80 menit, tentu pekerjaan siswa belum selesai sesuai dengan apa yang diharapkan. Maka, guru wajib pandai mengatur waktu yang tersedia, agar pekerjaan siswa selesai dan nilainya mencapai criteria ketuntasan minimal (KKM).</p>
<p>Pengalaman penulis dalam melaksanakna KBM pada pertemuan pertama pekerjaan peserta didik baru mencapai sekitar 60 persen, yaitu berupa sketsa dan sebagian yang lain sudah mewarna. Padahal target yang diharapkan pekerjaan siswa mencapai 85 sampai 100 persen. Maka perlu dilakukan refleksi, selanjutnya guru menjelaskan langkah-langkah berikutnya berupa pemberian motivasi, agar pada pertemuan kedua target yang diinginkan tercapai.</p>
<p>Pada pertemuan kedua setelah dilakukan evaluasi dan dorongan (motivasi) secara umum pekerjaan siswa baru mencapai 65 persen sampai dengan 80 persen. Maka, perlu direfleksi kembali dan dilakukan perbaikan pada pertemuan ketiga, guna menentukan langkah-langkah selanjutnya. Mengingat, target yang dicanangkan guru belum tercapai batas tuntas KKM, maka perbaikannya, dilanjutkan pada pertemuan ketiga.</p>
<blockquote><p>Berdasarkan evaluasi secara umum dan secara khusus serta penguatan dari guru disetiap pertemuan (satu, dua dan tiga), ternyata karya siswa telah dapat memenuhi KKM minimal 85 persen terpenuhi. Simpulannya, pelaksanaan materi melukis dengan penerapan metode cooperative learning terbukti selalu menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan.</p></blockquote>
<p></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupena.org/wp/2011/11/13/penerapan-cooperative-learning-pada-materi-melukis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENGUMUMAN  JUARA LOMBA MENULIS ARTIKEL ILMIAH POPULER GURU INDONESIA AGUPENA PUSAT-KEMENDIKNAS REPUBLIK INDONESIA 2011</title>
		<link>http://agupena.org/wp/2011/08/17/pengumuman-juara-lomba-menulis-artikel-ilmiah-populer-guru-indonesia-agupena-pusat-kemendiknas-republik-indonesia-2011/</link>
		<comments>http://agupena.org/wp/2011/08/17/pengumuman-juara-lomba-menulis-artikel-ilmiah-populer-guru-indonesia-agupena-pusat-kemendiknas-republik-indonesia-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 12:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>naijan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengumuman Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupena.org/wp/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[PENGUMUMAN  JUARA LOMBA MENULIS ARTIKEL ILMIAH POPULER GURU INDONESIA AGUPENA PUSAT-KEMENDIKNAS REPUBLIK INDONESIA 2011 &#160; Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) bekerjasama dengan Kemendiknas RI tahun 2011 mengadakan Lomba Artikel Guru Nasional untuk memeringati Hari Pendidikan Nasional(Hardiknas) 2011. Sebagaimana diumumkan dalam situs www.agupena.org bulan April 2011, lomba yang seyogyanya akan diumumkan bulan Juni, ternyata perlu mengalami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENGUMUMAN  JUARA LOMBA MENULIS ARTIKEL ILMIAH POPULER GURU INDONESIA AGUPENA PUSAT-KEMENDIKNAS REPUBLIK INDONESIA 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) bekerjasama dengan Kemendiknas RI tahun 2011 mengadakan Lomba Artikel Guru Nasional untuk memeringati Hari Pendidikan Nasional(Hardiknas) 2011.</p>
<p>Sebagaimana diumumkan dalam situs www.agupena.org bulan April 2011, lomba yang seyogyanya akan diumumkan bulan Juni, ternyata perlu mengalami pengunduran hingg akhir Juli 2011 karena berbagai hal terjadi baik dalam persoalan teknis administrasi, sponsorship, hingga naskah peserta.</p>
<p>Alhamdulilah hingga batas penilaian 15 Agustus 2011, Panitia menerima sekitar 92 Naskah dari para guru yang tersebar di beberapa propinsi di Indonesia. Sayang karena lomba menggunakan basis teknologi situs, email, dan facebook sebagai alat informasi dan promosi acara, beberapa wilayah di Indonesia yang kurang mengakses lomba tersebut tidak dapat diikuti para gurunya.</p>
<p>Sebagai langkah pertama, mungkin 92 naskah ini cukup memenuhi harapan di tahun 2011. Namun, insya-Allah di tahun depan informasi dan penyebaran media lomba pun akan disemarakkan agar hasil dan guru peserta lomba pun makin semarak dan beragam.</p>
<p>Lomba Artikel Guru Nasional 2011  selain relevan dengan UU Guru dan Dosen No. 14/2005 dan Permen No. 19/2005 memang sangat penting bagi guru dalam pengembangan kualitas dan kreativitasnya dalam pengembangan pendidikan di indonesia. Jadi, banyak manfaat yang bisa diperoleh oleh semua stakeholder sebagai dampak positif lomba semacam ini.</p>
<p>Setelah melalui pembacaan naskah yang intens dari para juri, khususnya berkaitan dengan bentuk tulisan artikel ilmiah populer yang disyaratkan panitia, maka dewan Juri yang diambil khusus dari kalangan guru, penulis, dan media massa, membaca, menilai, dan memutuskan nama-nama guru dan karyanya (terlampir daftar juara) sebagai pemenang Lomba Artikel Guru Nasional 2011  yang diumumkan dalam situs www.agupena.org serta akan diekspos di beberapa media massa nasional dan daerah.</p>
<p>Selanjutnya, insya-Allah para pemenang lomba akan diundang ke Jakarta pada pertengahan bulan September 2011 untuk mendapat haknya sebagai pemenang lomba. Panitia akan menghubungi kembali para pemenang lomba via telepon dan surat pemberitahuan resmi pengumuman para juara lomba.</p>
<p>Akhirnya terima kasih kepada semua kerja keras Panitia, Prof. Fasli Jalal (Wamendiknas RI) sebagai penggagas Agupena, Bapak Hudaya Latuconsina (Pembina Agupena), serta para guru peserta lomba menulis artikel guru nasional 2011. Semoga berkah dan bermanfaat.</p>
<p>Jakarta, 17 Agustus 2011</p>
<p>Ketua Panitia,</p>
<p>Drs. Erwan Juhara</p>
<p>Lampiran:</p>
<p>DAFTAR  JUARA LOMBA MENULIS ARTIKEL ILMIAH POPULER GURU INDONESIA<br />
AGUPENA PUSAT-KEMENDIKNAS REPUBLIK INDONESIA 2011</p>
<p>Juara:<br />
1.	Idrus  bin Harun (Guru: Identitas, Kreativitas dan Progresivitas) =Guru SDN 48  Kota Banda Aceh-Propinsi Nangroe Aceh Darussalam<br />
2.	Mi’raj Dodi Kurniawan (Guru, Festival Menulis dan Noblesse Oblige)= Guru SDN Talaga 1 Cugenang-Kab. Cianjur Propinsi Jabar<br />
3.	Mulyadi AZ (Menjadi Guru Aplikatif)=Guru SMK Putra Rifara Kosambi-Kab. Tangerang Propinsi Banten</p>
<p>12 Juara Harapan:<br />
1.	Nasin Elkabumaini (Citra Guru, Penulis, Guru Penulis dan Pembelajaran)= Guru P4TK Indonesia yang sedang Mengajar di Sabah-Malaysia<br />
2.	Abdul Kadir (Pendidikan Berkarakter)=Guru SMKN 1 Sumenep Madura-Propinsi Jatim<br />
3.	Fritz H.S. Damanik (Ketika Guru Menulis Tentang Masanya)=Guru SMA Mandiri Harapan Medan-Propinsi Sumatera Utara<br />
4.	Ismail  Kusmayadi (Menjadi Guru yang Dirindukan)=Guru SMAN 1 Banjaran-Kab. Bandung Propinsi Jabar<br />
5.	Euis Lesmini Djuanda (Syougakko dan Pendidikan Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa)=Guru SMPN 1  Batujajar Padalarang-Kab. Bandung Barat Propinsi Jabar<br />
6.	Deni A. Hendarsyah (‘Genuine Character’ Guru)=Guru  SMPN 2 Cimahi-Kota Cimahi-Propinsi Jabar<br />
7.	Asep Immaduddin AR (Guru Bersikap dengan Bertindak dan Menulis)=Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri  Pusakanagara  Kab. Subang-Propinsi   Jabar<br />
8.	Sukmana (Guru Menulis, Guru yang Abadi)= Guru SMAN 10 Kota Bandung-Propinsi  Jabar<br />
9.	Rita Rochayati (Guru menulis, Murid pun Menulis)=Guru SMA Paulus Kota Bandung-Propinsi Jabar<br />
10.	Rusi Hartati (Guru Harus “Kaya”  untuk Bisa “Kaya” Mengajar)= Guru SMKN 8 Kota Bandung-Propinsi Jabar<br />
11.	Nurul Amaliyah (Guru Berprestasi, Guru Penulis)=Guru SMKN 8 Kota Bandung-Propinsi Jabar<br />
12.	Wimala Dyah intan (Pena Seorang Guru)= Guru SD Islam Terpadu Ar Risalah-Kota Solo-Propinsi Jateng</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupena.org/wp/2011/08/17/pengumuman-juara-lomba-menulis-artikel-ilmiah-populer-guru-indonesia-agupena-pusat-kemendiknas-republik-indonesia-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Peluncuran Web Agupena Jatim</title>
		<link>http://agupena.org/wp/2011/06/09/selamat-peluncuran-web-agupena-jatim/</link>
		<comments>http://agupena.org/wp/2011/06/09/selamat-peluncuran-web-agupena-jatim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 08:02:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengurus]]></category>
		<category><![CDATA[agupena jatim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupena.org/wp/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, jejaring dunia maya Agupena kembali bertambah. Sebuah web baru yang dibangun oleh rekan-rekan pengurus Agupena Wilayah Jatim telah lahir. Sebagai jejaring dunia maya, web bisa dijadikan sebagai media virtual untuk “membangun semangat berbagi” dengan mengekspresikan pemikiran-pemikiran kreatif dalam genre tulisan. Segenap pengurus Agupena Pusat mengucapkan selamat kepada rekan-rekan pengurus Agupena Wilayah Jatim atas peluncuran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">A</span>lhamdulillah, jejaring dunia maya Agupena kembali bertambah. Sebuah web baru yang dibangun oleh rekan-rekan pengurus <a href="http://agupenajatim.org/" target="_blank">Agupena Wilayah Jatim </a>telah lahir. Sebagai jejaring dunia maya, web bisa dijadikan sebagai media virtual untuk “membangun semangat berbagi” dengan mengekspresikan pemikiran-pemikiran kreatif dalam genre tulisan. </p>
<p><img alt="" src="http://agupenajatim.org/images/stories/logo.png" class="alignleft" width="540" height="87" /></p>
<p>Segenap pengurus Agupena Pusat mengucapkan selamat kepada rekan-rekan pengurus Agupena Wilayah Jatim atas peluncuran web-nya, semoga terus eksis dalam ikut berkiprah meningkatkan kinerja guru melalui dunia kepenulisan dan bisa mengilhami rekan-rekan sejawat yang lain untuk mengikuti jejaknya. Rekan-rekan sejawat yang berkenan bersilaturahmi, silakan berkunjung <a href="http://agupenajatim.org/" target="_blank">ke sini</a>! Nah, salam Agupena! </p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong><br />
Pengurus Pusat Agupena Pusat</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>NAIJAN<br />
Ketua Umum</strong></span></p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupena.org/wp/2011/06/09/selamat-peluncuran-web-agupena-jatim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyimak BOS Terhadap Nasib para GTT &amp; PTT</title>
		<link>http://agupena.org/wp/2011/06/05/menyimak-bos-terhadap-nasib-para-gtt-ptt/</link>
		<comments>http://agupena.org/wp/2011/06/05/menyimak-bos-terhadap-nasib-para-gtt-ptt/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jun 2011 04:18:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[guru honorer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupena.org/wp/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Oleh ROTO, S.Pd., M.Pd (Ketua Umum Agupena Cabang Kabupaten Semarang) WALI murid yang berekonomi menengah ke bawah secara bertahab sejak tahun pelajaran 2008/2009 telah ikut merasakan pendidikan dasar gratis (SD &#038; SMP) dan tidak terbebani biaya sumbangan pengembangan instistusi (SPI), serta sumbangan orang tua (SOT) disetiap bulannya. Tak ketinggalan pula wali murid yang berekonomi menengah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh ROTO, S.Pd., M.Pd (Ketua Umum Agupena Cabang Kabupaten Semarang)</p>
<p><img alt="" src="http://riadf.files.wordpress.com/2011/03/dana_bos22.jpg" class="alignleft" width="300" height="225" />WALI murid yang berekonomi menengah ke bawah	 secara bertahab sejak tahun pelajaran 2008/2009 telah ikut merasakan pendidikan dasar gratis (SD &#038; SMP) dan tidak terbebani biaya sumbangan pengembangan instistusi (SPI), serta sumbangan orang tua (SOT) disetiap bulannya. Tak ketinggalan pula wali murid yang berekonomi menengah ke atas pun ikut merasakan juga. </p>
<p>Dengan berlakunya pendidikan dasar gratis yang sedikit menyejukkan tersebut, pada sisi lain para guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) berharap untuk bersegera diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Lewat organisasi PGRI pulalah para GTT &#038; PTT sangat menggantungkan harapan. Sejalan pendapat DR Soebagyo Brotosedjati, M.Pd (Ketua PGRI Jawa Tengah) dalam Derap Guru edisi April 2011: “Sekarang ini saja masih ada yang dibawah UMR. Kalau dibatasi Cuma 20 persen dari BOS, ya kasihan.”<br />
 Pendapat tersebut dapat diindikasikan bahwa para pengurus PGRI tidak bosan-bosannya mempreser pemerintah untuk memperjuangkan harapan para GTT &#038; PTT. Paling tidak memperjuangkan untuk mendapatkan gaji sesuai standar upah minimum regional.</p>
<p>Berdasarkan perubahan alokasi dana BOS dan penyalurannya, belum terjadi perubahan signifikan tiba-tiba terjadi perubahan tragis yang menyesakkan. Sebab semenjak tri wulan pertama tahun 2011, dana BOS hanya boleh dipergunakan untuk honor para GTT &#038; PTT maksimal 20 persen. Bagi sekolah yang terdapat GTT &#038; PTT sedikit, tentu honornya mampu mencapai upah mimum regional. Lalu bagaiman nasib GTT &#038; PTT di suatu sekolah yang jumlah GTT &#038; PTT- nya banyak? Jangankan berandai-andai diangkat menjadi CPNS, untuk mendapat upah minimum saja sangat jauh panggan dari api. Itulah gambaran sekilas nasib para GTT &#038; PTT terlebih yang berwiyata bakti di lembaga sekolah swasta. </p>
<p>Agus Supriyanto, Wiyata Penjaga SD Ngawen 1 &#038; 2 Demak: “Adakah yang Peduli dengan Nasib Kami?” (SM, 25/9/2010) Selama 4 tahun sebagai penjaga SD tidak pernah menerima bantuan/tunjangan apa pun. Oleh karena itu mohon kepada instansi terkait untuk memikirkan, mengusulkan kebijakan pemberian bantuan/tunjangan penjaga. </p>
<p>“GTT di Instansi Swasta Bagaimana Nasibmu?”(SM, 9/9/2010). Berisi tentang pengaduan GTT &#038; PTT yang diperlakukan diskrimasi, karena tidak bisa diusulkan menjadi PNS, padahal pekerjaan mereka sama, yaitu dalam rangka mencerdaskan anak bangsa. “Kepada Bupati Kendal terpilih, tolong wiyata bakti yang sudah ngabdi di Pemda dua tahun dipikirkan. Kasihan, mereka juga sudah berkeluarga (SM, 19/7/10), “Kepada Bupati dan Kepala BKD Grobogan, tolong pikirkan nasib guru wiyata bhakti yang sudah mengabdi sejak tahun 2000. Masukkan mereka dalam data base dan diangkat jadi PNS” (SM, 18/8/10).</p>
<p>Pernyataan di atas adalah contoh aduan para GTT &#038; PTT yang ke sekian kalinya. Mencermati peran PTT pendidikan, sejatinya tidak hanya sebagai konco wiking alias babu. Sebab fakta keberadaan PTT tidak lebih sekadar babu yang bergaji belum memenuhi upah minimum regional (UMR). Padahal UM Regional/UM Propinsi/UM Kabupaten, di Kabupaten Semarang tahun 2010 adalah Rp 824.000,- </p>
<blockquote><p>Nasib GTT yang berijasah S1 juga tidak jauh berbeda. Namun peluang GTT lebih baik dibanding nasib PTT. Sebab di setiap tahun, seleksi CPNS untuk GTT cenderung lebih banyak jumlahnya untuk menjadi PNS dibanding dengan PTT. PTT pendidikan yang ada di tingkat sekolah SMP/SMA dari rombongan belajar (9 – 12 kelas) berjumlah antara 4 sampai dengan 6. Dengan latar belakang pendidikan minimal SMA/SMK, sampai D3. Untuk PTT (penjaga malam dan tukang kebun) sejumlah antara 2 sampai dengan 4 orang. Sehingga jumlah PTT pada suatu institusi SMP/SMA (15 kelas), berkisar antara 6 sampai dengan 8 orang. Sedang jumlah GTT (berijazah S1) berkisar antara 5 orang.
</p></blockquote>
<p>Berikut contoh jumlah PTT &#038; GTT di tingkat Kabupaten Kendal: Jumlah PTT 2.300 orang dengan perincian 1.440 tenaga teknis dan 860 GTT (SM,  Juli 2010). Tugas pokok PTT secara garis besar adalah melayani administrasi sekolah. Faktanya PTT, sangat berperan mewarnai maju mundurnya sebuah institusi sekolah. Namun, setiap ada penjaringan CPNS terhadap PTT pendidikan seakan tidak pernah dibutuhkan. Sebab data yang ada dalam setiap periode penjaringan PTT, yang diterima rata-rata 2 orang perkabupaten. Padahal jumlah PTT perkabupaten mencapai ribuan.<br />
Usia Pengabdian PTT &#038; GTT</p>
<p>Perjalanan usia selama menjadi tenaga PTT, ada yang mencapai lima tahunan, bahkan ada puluhan tahun. Sedang jumlah usia guru yang melaksanakan GTT, dari lima tahunan, bahkan ada yang telah dua puluh tahun lebih. Mencermati fakta tersebut, tentu mengundang keprihatinan, mengapa institusi sekolah menerima pelamar PTT &#038; GTT hingga mencapai minimal 6 sampai 10 orang? Bukankah itu sama dengan menggantung harapan hidup yang abu-abu, bahkan gelap?<br />
Pada momen ini, pemerhati GTT &#038; PTT ingin memaparkan fakta yang ada dan sering penulis temui di setiap institusi sekolah tingkat TK, SD, SMP dan SMA. Paling tidak untuk dijadikan pemikiran dalam mengambil langkah kebijakan bagi para stakeholder di bidang pendidikan dan atau kepada institusi Badan Kepegawaian Daerah (BKD). </p>
<p>Dengan harapan dalam mengambil kebijakan dibidang ketenagaan pendidikan dan penempatan tenaga guru CPNS, berkenan memperhatikan nasib GTT yang ada pada suatu sekolah tertentu. Sebab, fakta di lapangan terjadi pemutusan kerja secara sepihak, karena pada tahun belakangan ada terjadi GTT di suatu sekolah A, karena ada pendatang guru CPNS yang mapelnya sama, kemudian beresiko mengusir GTT yang ada tersebut.</p>
<p>Pada tahun sebelumnya memutuskan hubungan kerja sepihak masih ada rasa ewuh pekewuh, tetapi mulai tahun ini (2010) sudah lenyap dari peredaran institusi pendidikan. Padahal, para GTT &#038; PTT telah berkeluarga, sekaligus sebagai penyangga ekonomi rumah tangga, dengan minimal jumlah keluarga antara 3 sampai dengan 5 jiwa. Itu artinya pemerintah juga berandil menelantarkan pendidikan putra-putri para GTT &#038; PTT tersebut.</p>
<p>Pantang Berpangku Tangan<br />
Beruntung harapan tersebut masih bisa ditepis oleh sebagian para GTT &#038; PTT, karena mereka juga tidak mau hanya berpangku tangan menunggu nasib. Sebab diantara mereka ada yang lebih kreatif merangkap sebagai penjual jasa komputer, mengadakan bimbingan belajar prifat dan lain-lain. Sedang sisi negatifnya ada yang merangkap sebagai makelar serabutan, penjual bakso, penjual sate dan lain-lain.</p>
<p>Sejatinya pada bulan belakangan ada sedikit harapan tentang janji pemerintah daerah akan bersegera mengangkat para GTT &#038; PTT tersebut. Derap Guru, September 2010: 21 “Ternyata sampai tahun 2011 ini dari 2.801 CPNS teranulir (2006) Jawa Tengah tersebut baru diselesaikan 1.676 orang sisanya 1.125 sampai sekarang belum terselesaikan. Sulistyo meminta agar Menpan dan Reformasi Birokrasi segera memproses 1.125 orang CPNS teranulir dari Jawa Tengah untuk diangkat menjadi CPNS” Sulistyo (Ketua PB PGRI  dan Ketua Komite DPD RI).	</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupena.org/wp/2011/06/05/menyimak-bos-terhadap-nasib-para-gtt-ptt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Multikultural yang Terabaikan</title>
		<link>http://agupena.org/wp/2011/05/28/pendidikan-multikultural-yang-terabaikan/</link>
		<comments>http://agupena.org/wp/2011/05/28/pendidikan-multikultural-yang-terabaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 12:42:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan multikultural]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupena.org/wp/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sawali Tuhusetya Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita tercabik-cabik dan terharu-biru oleh maraknya aksi kekerasan yang brutal dan sadis berkedok agama. Kasus yang dengan telanjang menampilkan ulah bar-bar dan premanisme sebagaimana yang tertayang di layar kaca bukanlah karakter bangsa kita yang sesungguhnya. Kekerasan yang terjadi di Cikeusik atau Temanggung beberapa waktu yang silam, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Sawali Tuhusetya</strong></p>
<p><a href="http://sawali.info/" title="sawali"><img class="alignleft" src="http://sawali.info/wp-content/uploads/2008/07/sawali_kendal1.jpg" alt="sawali" width="150" /></a>Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita tercabik-cabik dan terharu-biru oleh maraknya aksi kekerasan yang brutal dan sadis berkedok agama. Kasus yang dengan telanjang menampilkan ulah bar-bar dan premanisme sebagaimana yang tertayang di layar kaca bukanlah karakter bangsa kita yang sesungguhnya. Kekerasan yang terjadi di Cikeusik atau Temanggung beberapa waktu yang silam, misalnya, makin membuka mata kita bahwa sakralitas makna “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”, diakui atau tidak, sudah mulai luntur.  Dan ini, jelas menjadi perkara serius yang perlu segera dituntaskan sebelum akhirnya mewabah menjadi “penyakit sosial” yang bisa meluluhlantakkan basis keindonesiaan kita yang sejak dulu amat toleran terhadap perbedaan. Apalagi, kasus-kasus yang mencuat ke permukaan terkait langsung dengan masalah keyakinan, kepercayaan, atau agama yang menjadi salah satu hak dasar dan asasi setiap warga bangsa. Ini artinya, tak seorang pun yang berhak untuk mencampuri dan mengintervensi hak-hak setiap warga negara yang mendasar dan asasi itu.</p>
<blockquote><p>Taruhlah keyakinan perorangan atau sekelompok orang dianggap menyimpang atau bertentangan dengan “keyakinan” mainstream yang ada di negeri ini, tetapi tidak lantas berarti harus dituntaskan dengan cara-cara kekerasan yang justru amat bertentangan secara diametral dengan keyakinan agama apa pun. Bukankah setiap agama selalu mengajarkan nilai-nilai cinta dan kasih sayang kepada sesama secara universal? Sungguh tidak bisa dipahami kalau pada akhirnya muncul “perilaku sesat” lewat tampilan preman dengan menenteng pentungan atau senjata tajam di ruang-ruang publik. Sungguh tidak bisa dimengerti kalau ada sekelompok orang yang berteriak di jalanan dengan menyebut-nyebut nama Tuhan, tetapi wajah mereka menunjukkan keangkuhan dan kegarangan dengan tangan menenteng senjata tajam berlumuran darah segar. </p></blockquote>
<p>Dalam kondisi seperti itu, idealnya negara harus “hadir” di tengah kecamuk kekerasan yang membadai semacam itu. Namun, sayang sekali, negara melalui aparat yang berwenang dinilai selalu hadir terlambat sehingga kekerasan demi kekerasan terus berlangsung tanpa ada upaya untuk mencegah sejak dini. Sejak peristiwa berdarah Mei 1998, entah sudah berapa nyawa yang melayang sia-sia akibat praktik premanisme dan vandalisme berbau SARA. </p>
<p>Mungkin ada benarnya kalau ada yang bilang bahwa kekerasan berbau SARA yang seringkali terjadi di negeri ini merupakan manifestasi kesalahpahaman akibat lemahnya pemaknaan terhadap perbedaan. Perbedaan belum dipahami secara utuh sebagai sebuah “rahmah”, tetapi justru dipersempit hingga menimbulkan pemaknaan eksklusif yang memicu tumbuhnya sikap fanatisme sempit. Mereka yang tidak sepaham dianggap sebagai pihak lain yang mesti dimusuhi yang tidak jarang diikuti dengan aksi-aksi agitasi dan provokasi. Imbas yang muncul dari situasi seperti itu adalah banyaknya orang yang tidak tahu apa-apa, tetapi terlibat secara masif dalam aksi-aksi premanisme yang tidak mereka sadari.</p>
<p>Dalam konteks demikian, dibutuhkan pemaknaan secara utuh terhadap nilai-nilai multikultural sejak dini, sehingga generasi masa depan negeri ini bisa memandang perbedaan sebagai sebuah “rahmah”, melihat keberagaman sebagai pola perilaku yang khas di tengah-tengah negeri yang secara “sunatullah” memang telah “ditakdirkan” sebagai bangsa yang multibudaya. Sampai kapan pun, akar kekerasan akan menjadi ancaman laten selama nilai-nilai primordialisme dipahami secara naif dan sempit. </p>
<p>Salah satu upaya strategis yang bisa dilakukan untuk membangun generasi masa depan yang “sadar budaya” semacam itu adalah penanaman nilai keberagaman melalui pendidikan multikultural di sekolah. Di tengah kompleksnya persoalan-persoalan pendidikan seperti saat ini, memang bukan hal yang mudah untuk merevitalisasi dan mengokohkan pendidikan multikultural dalam dunia persekolahan kita. Banyak kalangan menilai, generasi Indonesia saat ini merupakan generasi yang tengah mengalami “gegar budaya”. Pada satu sisi, anak-anak muda yang tengah gencar memburu ilmu di bangku pendidikan tak pernah berhenti mendapatkan asupan “gizi” tentang nilai-nilai keluhuran budi dan akhlakul karimah, tetapi pada sisi yang lain, mereka juga tidak bisa menutup mata terhadap maraknya berbagai perilaku anomali sosial, kerusuhan, dan kekerasan yang berlangsung vulgar dan telanjang di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Dalam situasi seperti itu, peserta didik mengalami “kepribadian yang terbelah”, sehingga tak jarang berada di persimpangan jalan ketika dihadapkan pada situasi yang saling kontradiktif. </p>
<blockquote><p>Meski demikian, tidak lantas berarti bahwa institusi pendidikan sebagai “kawah candradimuka peradaban” boleh bersikap abai dan melakukan pembiaran secara terus-menerus dan berkelanjutan terhadap perilaku generasi yang “gegar budaya” semacam itu. Melalui berbagai pendekatan dan model-model pembelajaran yang menarik, peserta didik perlu diajak berdiskusi, bersimulasi, dan berdialog bagaimana cara hidup saling menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang ada di tengah-tengah masyarakat plural. Sekolah perlu di-setting dan didesain sebagai wadah simulasi terhadap berbagai fenomena hidup dan kehidupan Indonesia yang serba-plural. </p></blockquote>
<p>Pendidikan multikultural, dengan demikian, tidak cukup menjadi tanggung jawab guru mata pelajaran tertentu, tetapi perlu diimplementasikan secara integral ke dalam berbagai materi pembelajaran yang relevan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. Tidak ada salahnya, peserta didik diajak berdialog dan belajar menumbuhkan kepekaannya terhadap kasus kekerasan yang terjadi. Bagaimana respon dan sikap peserta didik terhadap aksi-aksi kekerasan yang terjadi bisa dijadikan sebagai masukan berharga dalam proses pembelajaran berbasis pendidikan multikultural. Guru perlu memberikan kebebasan kepada subjek didik untuk merespon dan menyikapinya, sehingga mereka merasa dihargai dan diperlakukan sebagai sosok yang amat dibutuhkan kehadirannya dalam proses pembelajaran. </p>
<p>Meskipun demikian, guru dalam fungsinya sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran perlu memberikan penguatan agar pengalaman belajar yang mereka peroleh bisa dikonstruksi menjadi pengetahuan baru tentang nilai-nilai multikultural itu. Jika dikemas dalam proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, bukan mustahil kelak mereka akan menjadi generasi yang “sadar budaya” sehingga mampu menyandingkan keberagaman sebagai kekayaan budaya bangsa yang perlu dihormati dengan sikap toleran, tulus, dan jujur. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupena.org/wp/2011/05/28/pendidikan-multikultural-yang-terabaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refleksi  Seputar Hari Kebangkitan Nasional</title>
		<link>http://agupena.org/wp/2011/05/19/refleksi-seputar-hari-kebangkitan-nasional/</link>
		<comments>http://agupena.org/wp/2011/05/19/refleksi-seputar-hari-kebangkitan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 14:19:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>naijan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[harkitnas]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupena.org/wp/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[103 TAHUN BUDI UTOMO: MELURUSKAN FAKTA SEJARAH Oleh Naijan Lengkong Lahirnya Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908 merupakan era baru pola perjuangan pergerakan kemerdekaan. Kelahiran Budi Utomo ini tidak dapat dipisahkan dari keberadaan dua orang tokoh pergerakan masa itu, yaitu Dr. Wahidin Soedirohoesodo dan Dr. Soetomo. Namun banyak buku-buku sejarah yang beredar saat ini yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>103 TAHUN BUDI UTOMO: MELURUSKAN FAKTA SEJARAH</strong></p>
<p>Oleh Naijan Lengkong</p>
<p><img class="alignleft" src="https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/161258_784788022_7159613_n.jpg" alt="naijan" width="150" />Lahirnya Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908 merupakan era baru pola perjuangan pergerakan kemerdekaan. Kelahiran Budi Utomo ini tidak dapat dipisahkan dari keberadaan dua orang tokoh pergerakan masa itu, yaitu Dr. Wahidin Soedirohoesodo dan Dr. Soetomo.</p>
<p>Namun banyak buku-buku sejarah yang beredar saat ini yang salah dalam memposisikan kedua tokoh ini. Kesalahan ini terutama terdapat dalam buku-buku mata pelajaran Sejarah untuk sekolah-sekolah dasar maupun menengah. Disana tercantum bahwa Budi Utomo didirikan oleh Dr. Wahidin S. dan Dr Soetomo serta beberapa orang temannya. Akibatnya para siswa memiliki pemahaman bahwa pendiri Budi Utomo adalah Dr. Wahidin S. dan Dr. Soetomo.</p>
<p>Hal inilah yang perlu diluruskan, karena fakta membuktikan bahwa Dr Wahidin adalah bukan tokoh pendiri Budi Utomo, walaupun kemudian ia aktif menjadi Pengurus Besar organisasi tersebut. Untuk membuktikan fakta-fakta tersebut ada baiknya kita telususri sekilas sejarah pendirian Budi Utomo.</p>
<p><strong>Sejarah Pendirian</strong><br />
Pada hari Rabu tanggal 20 Mei 1908. Sekitar pukul 9 pagi beberapa pelajar sekolah Dokter Jawa (STOVIA) berkumpul di ruang Anatomi. Mereka adalah Soetomo, M. Soeraji, Moh. Saleh, M. Suwarno, M. Gunawan, Suwarno, RM Oumbreh, dan R. Angka. Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Soetomo. Setelah melakukan pembahasan panjang, akhirnya mereka sepakat untuk mendirikan perkumpulan sebagai sarana perjuangan mereka. Mereka pun sepakat untuk menjadikan 	BUDI UTOMO sebagai nama organisasi baru tersebut. </p>
<p>Susunan pengurusnya adalah sebagai berikut.<br />
•	Ketua		: R Sutomo<br />
•	Wakil Ketua	: Sulaiman<br />
•	Sekretaris I	: Suwarno<br />
•	Sekretaris II	: M. Gunawan<br />
•	Bendahara	: R. Angka<br />
•	Komisaris	: M. Sumarno dan yang lainnya.</p>
<p>Nama “Budi Utomo” itu sendiri adalah usulan dari M. Suraji. Ini diilhami oleh peristiwa pertemuan segitiga antara Sutomo, Suraji dan Dr. Wahidin beberapa waktu sebelumnya. Pertemuan itu merupakan salah satu kegiatan Dr. Wahidin yang sedang melakukan perjalanan keliling Jawa dalam rangka mempropagandakan gagasannya untuk membentuk studiefonds (Dana Pendidikan), untuk menolong para pemuda Indonesia agar mereka dapat menuntut pendidikan di perguruan tinggi.</p>
<p>Dalam pertemuan itu Dr. Wahidin Menyampaikan niatnya untuk melanjutkan perjalanan ke Banten untuk melanjutkan propagandanya. Mendengar rencana tersebut, Soetomo berkomentar ‘Menika satunggaling pada melan sae serta nelakaken budi utami’ ( itu suatu pekerjaan baik dan menunjukkan budi yang utama). Kata ‘budi utami’ adalah bentuk “kromo” dari pada ‘budi utomo’. Perkataan Soetomo itulah yang diusulkan oleh Suraji dan diterima oleh forum. Selain itu, kata tersebut adalah untuk mengingat dan menghormati pencetus gagasan, yaitu Soetomo. Karena perkataan “Soetomo” dan “oetomo” memang mempunyai arti yang berdekatan.</p>
<p>Jadi rapat pada tanggal 20 Mei 1908. Tersebut tidak dihadiri oleh Dr. Wahidin, karena pada waktu itu beliau telah melanjutkan perjalanannya untuk kemudian kembali ke tempat tinggalnya di Yogyakarta. Dan rapat tersebut memang murni gagasan Soetomo serta tidak terkait langsung dengan Dr Wahidin.</p>
<p>Fakta ini diperkuat oleh data yang tercantum buku “Gedung STOVIA sebagai Cagar Sejarah’ susunan Drs. S.Z. Hadi Sujipto terbitan Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta 1973. Buku tersebut menjelaskan bahwa kesaksian akan ketidak hadiran Dr Wahidin (Ketika itu berusia 41 Tahun) dalam rapat yang diadakan oleh para pelajar STOVIA  (Soetomo dkk yang ketika itu rata-rata berusia 19 tahun). diperkuat oleh keterangan beberapa saksi yaitu :</p>
<p>1.	Dr. R. Angka Prodjosoedirdjo, bekas bendahara Budi Utomo di STOVIA (Lahir di Banyumas 4 Mei 1890).<br />
2.	Prof. Dr. Sardjito (alm) yang pada waktu Budi Utomo berdiri ia duduk di tingkat II persiapan STOVIA.<br />
3.	Dr. R. Kodijat, yang satu tingkat lebih tinggi daripada Prof. Dr. Sarjito (alm).</p>
<p><strong>Titik Pangkal Kesalahan</strong><br />
Kesalahan pendapat dan pemahaman akan peranan Dr. Wahidin Sudirohusodo dalam pendirian Budi Utomo ini tidak terlepas dari latar belakang pendidikan dan karirnya. Wahidin lahir di Melati (Yogyakarta) pada tahun 1857. Ia telah menamatkan pelajarannya di Sekolah Dokter Jawa di Weltevreden Jakarta pada usia 15 tahun. Dokter Jawa yang masih sangat muda itu langsung diangkat menjadi asisten dosen di sekolah Dokter Jawa (sekolah ini kemudian dinaikkan statusnya menjadi sekolah tinggi Kedokteran/STOVIA).</p>
<p>Berapa lama ia menjadi asisten dosen di sekolah tersebut, itupun tidak jelas. Yang jelas pada tahun 1895 Dr. Wahidin sudah berada di Yogyakarta kembali dan membuka praktek sendiri. Ia bersama beberapa kawannya kemudian mendirikan sebuah surat kabar berkala Retnodhumilah, yang sementara terbit tiap hari Selasa dan Jum’at. Kurang lebih 10 tahun lamanya Dr Wahidin menangani redaksi Retnodhumilah. Pada bulan November 1906 ia meletakkan jabatannya sebagai pemimpin redaksi. Ia menyimpulkan bahwa memperjuangkan cita-citanya melalui surat kabar pada masa itu kurang cepat mengenai sasaran, sehingga diperlukkan cara lain yang lebih efektif.</p>
<p>Menurut pemikirannya, permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia pada waktu itu adalah karena kurangnya kesempatan untuk mengikuti pendidikan, terutama untuk jenjang pendidikan tinggi. Jadi taraf hidup bangsa ini dapat terangkat melalui pendidikan. Karena itu perlu adanya satu badan yang menyelenggarakan studiefond (Dana Pendidikan), untuk menolong para pemuda Indonesia agar dapat melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi.</p>
<p>Untuk mewujudkan cita-citanya itu, maka sejak akhir tahun 1906 Dr. Wahidin mengadakan perjalanan keliling Jawa mempropagandakan pembentukan Studiefond. Ia menemui para priyayi (pegawai negeri) dan para bangsawan dan mengajak mereka ikut aktif memikirkan pendidikan bangsanya yang masih sangat rendah. Berita tentang perjalanan keliling Dr Wahidin ini dimuat dalam surat kabar Retnodhumilah pada tanggal 8 Desember 1906 dan 9 Maret 1907.<br />
Dalam rangka perjalanannya menuju Banten pada akhir tahun 1907, Dr Wahidin menyempatkan diri singgah di STOVIA Weltevreden Jakarta. Pada kesempatan inilah Dr Wahidin bertemu dengan R Soetomo dan M Soeradji yang sedang belajar disana. Dihadapan mereka, Dr Wahidin memaparkan cita-citanya. Hal ini membuat Sutomo dan Suraji begitu terkesan. Keduanya lalu berupaya mengembangkan ide-ide cemerlang tersebut, yang kemudian bermuara pada pendidikan Budi Utomo.</p>
<p>Hal-hal inilah barangkali yang menjadi sebab utama timbulnya pendapat yang salah, yaitu Dr. Wahidin Soedirohoesodo adalah Bapak Pergerakan Nasional, karena dialah yang mendirikan Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Dan Dr Wahidin adalah pendiri Budi Utomo. Kecenderungan untuk membenarkan pendapat yang salah ini hingga kini masih terus berlangsung ditengah-tengah masyarakat kita baik oleh buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, maupun karena pengaruh pidato-pidato dalam peringatan-peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei.</p>
<p><strong>Peran Dr Wahidin</strong><br />
Bagi Soetomo dan kawan-kawan, Dr Wahidin adalah figur yang patut dijadikan contoh. Ide-ide perjuangannya merupakan sumber inspirasi bagi mereka sehingga terbentuklah Budi Utomo. Jadi bagi mereka mendirikan Budi Utomo adalah salah satu upaya untuk mengembangkan cita-cita Dr Wahidin.</p>
<p>Dr Wahidin pun kemudian terlibat langsung dalam kepengurusan Budi Utomo. Dalam kongres pertama Budi Utomo yang diadakan tanggal 3 sampai 5 Oktober 1908 di Yogyakarta, Dr Wahidin diberi kehormatan sebagai pemimpin kongres. Pemilihan kota Yogyakarta sebagai tempat pelaksanaan kongres adalah juga merupakan satu penghargaan pimpinan Budi Utomo di Jakarta (Sutomo dkk) kepada Dr Wahidin. Alasannya adalah untuk memudahkan Dr Wahidin karena Yogyakarta adalah kota tempat tinggalnya.</p>
<p>Salah satu hasil kongres pertama tersebut adalah terbentuknya Pengurus Besar (Hoafd Bestuur)  Budi Utomo yang jumlahnya sebanyak 9 orang. Sekali lagi Dr Wahidin mendapatkan kepercayaan yang luar biasa. Dr Wahidin terpilih sebagai Wakil Presiden PB Budi Utomo mendampingi RTA Tirto Koesoemo (Bupati Karang Anyar) yang waktu itu terpilih sebagai Presiden.</p>
<p>Hal unik yang terjadi dalam kongres ini adalah berpindahnya kepengurusan dari tangan kelompok muda (pelopor Budi Utomo) kepada kalangan tua. Karena ternyata yang menjabat sebagai Pengurus Besar adalah justru golongan tua. Diantaranya para pensiunan dan para Bupati. Pertimbangannya waktu itu adalah agar kalangan muda back to campus untuk menyelesaikan pelajaran mereka terlebih dahulu. Selain itu adalah untuk menarik perhatian lebih luas dari kalangan priyayi. Karena saat itu kedudukan seorang bupati sangat tinggi di mata masyarakat luas.</p>
<p>Selanjutnya Sutomo sendiri meskipun tidak termasuk dalam jajaran Pengurus Besar dia tetap memimpin Budi Utomo cabang STOVIA Weltevreden Jakarta.</p>
<p>Penghargaan kalangan muda Budi Utomo kepada Dr Wahidin tidak hanya sampai disitu. Figur Dr Wahidin bagi mereka adalah sebagai Bapak dalam pentas politik mereka. R Sutomo sendiri pernah mengatakan pertemuan dengan Dr Wahidin Sudirohusodo, yang mempunyai paras yang tenang, yang bijaksana dalam langkah baginya, yang yakin kalau membentangkan cita-citanya, telah memberi bekas pada saya yang dalam agaknya.</p>
<p>Penghargaan R. Soetomo terhadap Dr Wahidin pada waktu itu ditutup dengan kata-kata : “Dokter Wahidin Benar, sungguh benar, kalau orang mengatakan bahwa andalah yang menjadi pelopor pergerakan kita umumnya” </p>
<p>Kepiawaian Dr Wahidin dalam pergerakan Nasional juga ternyata dikagumi oleh pakar sejarah dari luar. Dia adalah Dr Akira Nagazumi, seorang sarjana Jepang yang membuat desertasi tentang Budi Utomo pada Cornel University. Dr Akira mengatakan “sebagai lulusan Dokter Jawa, dialah yang mula-mula mencetuskan gagasan untuk membentuk sebuah organisasi dan pengajaran bagi pelajar-pelajar berbakat tetapi kurang mampu”.</p>
<p>Yang perlu diingat adalah bahwa meskipun Dr Wahidin tidak turut serta mendirikan Budi Utomo, tidak berarti bahwa ia tidak aktif sama sekali dalam pergerakan tersebut. Ia termasuk salah seorang yang paling gembira menyambut berdirinya Budi Utomo. Ia kemudian menjadi ketua cabang Budi Utomo Yogyakarta I yang berdiri pada tanggal 29 Agustus 1908. Cabang ini merupakan cabang yang pertama berdiri di kawasan Jawa Tengah.</p>
<p>Meskipun telah aktif di Budi Utomo Dr Wahidin tidak melupakan cita-cita awalnya yaitu mendirikan studiefonds. Hal ini dibuktikannya dengan mendirikan perkumpulan Darmoworo yang mendapat sokongan dari pemerintah Hindia Belanda waktu itu. Dengan perantara Darmoworo, maka Budi Utomo Berhasil mendirikan tiga buah sekolah, masing-masing satu di Surakarta dan dua di Yogyakarta. </p>
<p>Jadi dengan tidak mengurangi rasa penghargaan kita kepada Dr Wahidin sebagai Pahlawan Nasional, dapat disimpulkan disini bahwa pendiri Budi Utomo adalah R Soetomo, sedangkan Dr Wahidin adalah pendiri Darmoworo. Kedua perkumpulan ini sama-sama memiliki peranan penting dalam pentas pergerakan Nasional.</p>
<p><strong>Upaya Meluruskan Fakta</strong><br />
Pemerintah sendiri telah berupaya meluruskan kesalahpahaman ini melalui Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta diterbitkanlah buku Gedung STOVIA sebagai Cagar Sejarah yang disusun oleh Drs. S. Z Hadi Sucipto pada tahun 1973. Buku ini melukiskan secara gamblang peristiwa-peristiwa sekitar pendirian Budi Utomo serta peranan Dr Wahidin dan R. Soetomo secara proporsional.</p>
<p>Untuk memperkuatnya, pemerintah melalui Departemen Penerangan menerbitkan buku Sejarah Kebangkitan Nasional Pemuda dan Pembangunan (20 Mei 1908-1985). Buku ini diterbitkan dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1985.</p>
<p>Tetapi pada kenyataannya kekeliruan ini masih tetap berlangsung, terutama dalam buku mata pelajaran sejarah untuk sekolah-sekolah. Hal ini terjadi karena para penulis buku-buku tersebut (yang kebanyakannya diterbitkan oleh penerbitan swasta) kurang peka terhadap perkembangan ilmu sejarah. Mereka kurang kreatif dalam menggunakan literatur. Selain itu mereka kurang mencermati perkembangan historiografi. Akibatnya kekeliruan tersebut terus berlangsung. Dan jika dibiarkan terus maka ini akan kekeliruan terhadap ini akan terus berlangsung sepanjang masa.</p>
<p>Karena itu untuk menanggulanginya perlu kita libatkan semua pihak yang terkait. Selain perlu adanya kreatifitas para penulis buku-buku pelajaran sejarah, juga perlu adanya kontrol dari pemerintah agar penulisan sejarah sesuai dengan fakta yang ada. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupena.org/wp/2011/05/19/refleksi-seputar-hari-kebangkitan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketua Dewan Penasehat Agupena Pusat, Prof. Dr. Fasli Jalal (Wamendiknas) Raih &#8220;Henry Kaufman Prize&#8221;</title>
		<link>http://agupena.org/wp/2011/05/07/ketua-dewan-penasehat-agupena-pusat-prof-dr-fasli-jalal-wamendiknas-raih-henry-kaufman-prize/</link>
		<comments>http://agupena.org/wp/2011/05/07/ketua-dewan-penasehat-agupena-pusat-prof-dr-fasli-jalal-wamendiknas-raih-henry-kaufman-prize/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 01:28:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>naijan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[home]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupena.org/wp/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, KOMPAS.com &#8211; Institut Pendidikan Internasional (The Institute of International Education) yang berkedudukan di Amerika Serikat (AS) memberikan penghargaan Henry Kaufman Prize kepada Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal. Fasli merupakan penerima pertama penghargaan internasional tersebut. Penghargaan tersebut sebagai pengakuan pada peran Fasli dalam mempromosikan dan mengembangkan pendidikan tinggi internasional di Indonesia dan dunia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA, KOMPAS.com &#8211; Institut Pendidikan Internasional (The Institute of International Education) yang berkedudukan di Amerika Serikat (AS) memberikan penghargaan Henry Kaufman Prize kepada Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal. Fasli merupakan penerima pertama penghargaan internasional tersebut.<br />
Penghargaan tersebut sebagai pengakuan pada peran Fasli dalam mempromosikan dan mengembangkan pendidikan tinggi internasional di Indonesia dan dunia. Acara pengukuhan dilaksanakan di Washington DC, Rabu (4/5/211) waktu setempat, oleh Presiden IIE dan CEO Dr Allan E. Goodman.<br />
IIE merupakan lembaga terpandang dalam pertukaran orang dan ide di dunia internasional. Lembaga indepen nonprofit ini didirikan pada 1919. IIE mempunyai jaringan lebih dari 1.100 anggota lembaga dan 18 kantor di seluruh dunia.<br />
Adapun Fasli dinilai berkomitmen untuk memperkuat hubungan di bidang pendidikan antara Indonesia-AS. Fasli mendorong untuk memperluas kerjasama kedua negara dengan membentuk penelitian bersama bidang sains dan teknologi dan membangun kapasitas di pendidikan tinggi Indonesia untuk mempromosikan kajian-kajian soal AS.<br />
Fasli juga terlibat di Dewan Kerjasama Indonesia-AS untuk Kemitraan Pendidikan Tinggi atau the Joint U.S.-Indonesia Council for Higher Education Partnership. Dewan kerjasama itu dibentuk pada 2011 lalu oleh lima lembaga swadaya AS dan pemimpin pendidikan tinggi Indonesia. Fasli dinilai dewan tersebut telah berperan meningkatkan sistem pendidikan tinggi.<br />
Selain itu, Fasli juga dinilai telah mendukung program &#8220;Training of Trainers&#8221; yang diikuti 100 dosen untuk mengembangkan pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi. Sejak 2008, Fasli menyediakan beasiswa S-2 dan S-3 bagi para dosen untuk kuliah di luar negeri. Penilaian itu termasuk juga upaya Fasli mempromosikan program sandwich untuk calon doktor dan penyegaran akademik bagi doktor untuk menimba ilmu selama satu semester di luar negeri.<br />
&#8220;Ini bentuk penghargaan kami pada Profesor Fasli Jalal atas dedikasinya meningkatkan kehidupan dengan mentransformasi sistem pendidikan tinggi Indonesia,&#8221; kata Henry A Kissinger, anggota the Board of Trustees of IIE and Ketua Juri Henry Kaufman Prize. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupena.org/wp/2011/05/07/ketua-dewan-penasehat-agupena-pusat-prof-dr-fasli-jalal-wamendiknas-raih-henry-kaufman-prize/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Seputar Hari Pendidikan Nasional: MENEROPONG KEMAMPUAN MENULIS GURU</title>
		<link>http://agupena.org/wp/2011/05/02/catatan-seputar-hari-pendidikan-nasional-meneropong-kemampuan-menulis-guru-2/</link>
		<comments>http://agupena.org/wp/2011/05/02/catatan-seputar-hari-pendidikan-nasional-meneropong-kemampuan-menulis-guru-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2011 11:34:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>naijan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupena.org/wp/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Naijan Lengkong. Enam hari menjelang Hari Raya Iedul Fitri tahun lalu, tepatnya Sabtu tanggal 4 September 2010 pukul 10 malam, penulis mendapat kiriman SMS dari Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Fasli Jalal. Isinya permintaan supaya penulis menghadap beliau tiga hari berikutnya (Selasa, 7 September 2010) di kantor beliau di Kemendiknas. Penulis sempat bimbang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Naijan Lengkong.  </p>
<p>Enam hari menjelang Hari Raya Iedul Fitri tahun lalu, tepatnya Sabtu tanggal 4 September 2010 pukul 10 malam, penulis mendapat kiriman SMS dari Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Fasli Jalal. Isinya permintaan supaya penulis menghadap beliau tiga hari berikutnya (Selasa, 7 September 2010) di kantor beliau di Kemendiknas. Penulis sempat bimbang, karena esok harinya penulis harus berangkat  meninggalkan Jakarta dalam rangka safari Iedul Fitri keliling Sumatera untuk mengunjungi seluruh Pengurus Wilayah Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia) di pulau Sumatera. Akhirnya penulis memutuskan untuk menunda keberangkatan. Penulis pikir pasti ada sesuatu yang mendesak sehingga beliau memanggil langsung ketika itu.<br />
Pada hari yang ditentukan penulis menemui beliau di Kemendiknas. Dalam pertemuan singkat (sekitar 30 menit) itu Wamediknas yang juga Ketua Dewan Penasehat Agupena Pusat itu mengungkapkan kegelisahan beliau tentang kemampuan menulis guru di Indonesia. Menurut beliau, kemampuan menulis guru di Indonesia masih sangat rendah. Karena itu beliau meminta agar Agupena mengadakan 3 kali  pelatihan menulis untuk guru tingkat nasional dalam tahun 2011 ini.<br />
Kegelisahan beliau memang bukan tanpa alasan. Paling tidak ada tiga indikator yang melatar belakanginya. Pertama, rendahnya penyertaan guru dalam setiap lomba penulisan yang diadakan oleh Kemendiknas untuk tingkat nasional dan Dinas Pendidikan untuk tingkat propinsi dan kota/kabupaten, termasuk juga lomba-lomba menulis yang diadakan oleh organisasi profesi guru.  Setiap tahun Pusat Perbukuan Kemendiknas mengadakan lomba penulisan buku pengayaan untuk guru dan tenaga kependidikan. Jumlah pesertanya setiap tahun tidak menunjukan peningkatan yang signifikan. Menurut Panitia Lomba Penulisan Buku Pengayaan Tahun 2010, jumlah pesertanya tidak sampai 500 orang. Suatu angka yang buruk bila dibandingkan dengan jumlah guru di Indonesia yang saat ini mencapai 2,6 juta orang. Padahal hadiah yang disiapkan untuk sekitar limapuluh pemenang bagi semua kategori dan tingkatan mendekati angka Rp 3 milyar. Angka yang tidak kecil. Indikator lain, Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Pusat tahun ini juga mengadakan lomba penulisan artikel untuk guru dan tenaga kependidikan. Untuk mensosialisasikan lomba ini, Agupena Pusat mengirimkan surat ke seluruh Dinas Pendidikan Propinsi seluruh Indonesia agar lomba ini diedarkan ke seluruh wilayah Indonesia. Selain itu juga lomba ini diumumkan jugadi internet melalui website, jejaring sosial seperti facebook dan juga  milis guru. Tapi hasilnya masih belum menggembirakan. Jumlah peserta masih sangat sedikit. Lalu what’s wrong? Apa yang sedang terjadi atas guru Indonesia?<br />
Kedua, di tingkat sekolah, masih sangat sedikit guru yang membuat Modul Pembelajaran. Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) secara administratif guru harus membuat Program Tahunan dan Program Semester. Isinya antara lain Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang kemudian harus didukung oleh Silabus dan Modul Pembelajaran. Banyak pengawas di tingkat dinas pendidikan kota/kabupaten yang mengeluh bahwa para guru banyak yang tidak memenuhi kewajibannya menyusun Modul Pembelajaran.<br />
Guru di Indonesia saat ini kebanyakannya masih pada taraf penyusunan RPP untuk bekal KBM. Jadi masih sangat jarang yang menyiapkan Silabus dan Modul Pembelajaran. Kalaupun ada kebanyakannya masih copy paste dari internet atau dari rekan sesama guru. Membuat Silabus dan Modul Pembelajaran memang membutuhkan kemampuan menulis. Dan inilah kendala utamanya, yaitu lemahnya kemampuan menulis guru sehingga menulis modul saja mereka mengalami kesulitan.<br />
Ketiga, banyak guru yang tertahan karirnya karena pangkat golongannya tertahan di IV/a (guru pembina) hanya karena tidak memiliki kemampuan menulis. Merujuk peraturan yang berlaku, untuk kenaikan golongan dari IV/a ke IV/b, guru harus mengajukan karya tulis ilmiah. Menurut data Biro Kepegawaian Kemendiknas, jumlah guru golongan IV/a keatas yang dapat mengajukan hasil pengembangan profesi hanya sekitar 500 orang guru dalam sekali penilaian. Dari jumlah itu kurang dari 20 persen yang memenuhi persyaratan lulus penilaian.<br />
Kondisi ini akan diperparah lagi dengan adanya ketentuan baru dari Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) yang mensyaratkan kenaikan golongan dari III/b ke III/c untuk pengajuan pengembangan profesinya juga harus melalui karya tulis ilmiah (KTI). Itu berarti akan semakin banyak guru yang karirnya terhambat karena rendahnya kemampuan menulis mereka.<br />
Hal inilah yang membuat Wamendiknas gelisah dan berujung pada instruksi kepada penulis selaku Ketua Umum Agupena Pusat untuk mengajukan proposal pelatihan guru di tingkat nasional dan juga mendorong seluruh pengurus wilayah untuk mengadakan pelatihan sejenis di tingkat propinsi.<br />
Tapi persoalan lain menghadang. Minat guru untuk mengikuti pelatihan ternyata masih kecil. Adanya persyaratan karya tulis bagi kenaikan pangkat ternyata tidak serta merta membuat para guru berminat pada bidang penulisan. Pelatihan penulisan yang diadakan oleh organisasi profesi guru juga ternyata sepi peminat. Alasan yang diungkapkan para guru antara lain: (1) padatnya jam mengajar sehingga sulit bagi mereka keluar sekolah untuk mengikuti pelatihan; (2) kurangnya dukungan pimpinan sekolah karena menurut anggapan sebagian pimpinan sekolah bahwa kemampuan menulis itu tanggung jawab pribadi, sehingga untuk mengikuti kegiatan itu guru harus menanggung biaya sendiri; (3) minimnya informasi sehingga banyak guru yang tidak tahu adanya pelatihan itu; (4) sikap apatis guru terhadap peraturan pemerintah tentang kewajiban pengajuan karya tulis ilmiah untuk kenaikan pangkat.<br />
Konsekuensi logis dari kondisi ini adalah kemampuan menulis guru tetap tidak berkembang. Kalau kondisinya seperti ini terus, mau dibawa kemana dunia pendidikan kita?</p>
<p>&#8212;o0o&#8212;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupena.org/wp/2011/05/02/catatan-seputar-hari-pendidikan-nasional-meneropong-kemampuan-menulis-guru-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sholat Jum’at di Pattani, Thailand</title>
		<link>http://agupena.org/wp/2011/04/28/sholat-jum%e2%80%99at-di-pattani-thailand/</link>
		<comments>http://agupena.org/wp/2011/04/28/sholat-jum%e2%80%99at-di-pattani-thailand/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Apr 2011 22:23:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>naijan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupena.org/wp/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Naijan Lengkong Belasan tahun lalu, ketika saya masih studi di IIU Malaysia, saya pernah berkunjung ke Pattani, Thailand. Pattani adalah wilayah di Selatan Thailand yang mayoritas penduduknya beretnis Melayu dan beragama Islam. Yang paling berkesan bagi saya disana adalah shalat Jum’at. Pada hari Jum’at itu, kami bercengkrama di rumah panggung tempat kami menginap. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Catatan Perjalanan Naijan Lengkong</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Belasan tahun lalu, ketika saya masih studi di IIU Malaysia, saya pernah berkunjung ke Pattani, Thailand. Pattani adalah wilayah di Selatan Thailand yang mayoritas penduduknya beretnis Melayu dan beragama Islam. Yang paling berkesan bagi saya disana adalah shalat Jum’at. Pada hari Jum’at itu, kami bercengkrama di rumah panggung tempat kami menginap. Kami asyik saling tukar pengalaman dengan kawan kami mahasiswa Thailand yang menjadi tuan rumah dan sekaligus <em>guide</em> kami.</p>
<p>Tidak terasa waktu dzuhur tiba. Tatkala terdengar suara adzan, kamipun tersadar bahwa hari itu adalah hari Jum’at. Saya bergegas mengajak teman-teman yang lain untuk segera berangkat ke masjid yang jaraknya beberapa ratus meter dari tempat kami. Yang membuat saya agak ‘geregetan’ adalah sikap teman-teman dari Thailand yang menurut saya waktu itu cenderung mengabaikan waktu shalat Jum’at. Sepanjang jalan mereka mengajak kami bercanda dan ngobrol sana-sini. Jalannya pun sangat santai, padahal sudah terdengar suara adzan. Itu berarti khotib sudah naik ke mimbar. Begitulah perkiraan saya waktu itu.</p>
<p>Sesampainya di masjid, saya sangat terkejut, karena ternyata masjid masih kosong. Yang ada hanya muadzin yang sedang melaksanakan shalat sunat dan tiga atau empat jama’ah yang sedang berwudhu. Beberapa jama’ah asyik berbincang di pelataran masjid.</p>
<p>Setengah jam kemudian, barulah ruangan masjid di penuhi oleh para jama’ah. Setelah itu Nampak seseorang (sepertinya tokoh masyarakat di situ) tampil ke mimbar. Saya pikir dia itu khotib, tetapi ternyata bukan. Karena begitu tampil, ia mengajak jama’ah untuk berdialog. Ia menyampaikan beberapa masalah yang sedang dihadapi oleh mereka. Yang pertama adalah masalah perbaikan/renovasi masjid yang sedang mereka lakukan. Kemudian masalah siskamling di desa mereka yang saat itu sedang rawan, lalu masalah perbaikan parit/selokan air yang saat itu cukup penting untuk mencegah banjir di beberapa bagian desa. Dan yang menarik adalah selama pembahasan yang dipimpin oleh tokoh tadi terdapat dialog dan perbincangan, bahkan terjadi beberapa perdebatan diantara jama’ah berkenaan dengan permasalahan tadi.</p>
<p>Menurut kawan-kawan dari Thailand tadi, masyarakat biasa membincangkan segala permasalahan yang berkaitan dengan politik, ekonomi, sosial budaya dan permasalahan kemasyarakatan yang lain di masjid, terutama sebelum Shalat Jum’at. Artinya mereka menggunakan masjid sebagai pusat kegiatan kemasyarakatan di lingkungan mereka. Setelah pembahasan selesai (memakan waktu hampir 1 jam). Barulah khotib naik mimbar dan memimpin shalat Jum’at.</p>
<p>Saya pikir apa yang menjadi kebiasaan di Thailand itu patut jadi bahan renungan buat kita. Itu berarti mereka telah mengikuti sunnah Rasulullah dalam memfungsikan masjid. Sejarah membuktikan bahwa Rasulullah menggunakan masjid sebagai pusat pemerintahan, diantaranya adalah rapat-rapat penting dengan para gubernur, menerima tamu Negara, menyusun rencana peperangan dan tempat pembahasan masalah muamalah lainnya. Tidak aneh kalau hari libur bagi umat Islam itu mestinya hari Jum’at. Karena pada hari Jum’at itu, mereka dapat berkumpul di masjid dan membincangkan permasalahan umat. Jadi boleh dikatakan ibadah sholat Jum’at itu dijadikan sebagai ‘kongres” mingguan umat Islam.</p>
<p>Masalahnya sekarang adalah  Jum’at tidak libur. Jemaah tidak sempat membincangkan persoalan umat pada hari itu, karena waktunya sempit. Akhirnya  shalat Jum’at hanyalah sebagai rutinitas ritual semata. Masjid kebanyakan hanya digunakan untuk shalat ritual saja. Itu memang harapan Belanda ketika menerapkan ketentuan tidak libur pada hari Jum’at. Belanda memang berhasil dalam misinya, sehingga hingga hari ini libur nasional kita adalah hari Minggu. Pada akhirnya mesjid tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupena.org/wp/2011/04/28/sholat-jum%e2%80%99at-di-pattani-thailand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BISNIS SAMBILAN</title>
		<link>http://agupena.org/wp/2011/04/22/cerpen/</link>
		<comments>http://agupena.org/wp/2011/04/22/cerpen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 10:07:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>naijan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis sambilan]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[naijan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupena.org/wp/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Naijan Lengkong&#8212;Ketua Umum Agupena&#8212; “Keadaan kita tidak mungkin seperti ini terus, Mas. Kenapa tidak mencoba untuk mencari usaha sambilan? Bisnis apa sajalah, yang penting bisa menghasilkan uang untuk menutupi kebutuhan kita. Mas ‘kan masih punya banyak waktu luang. Hari minggu seperti ini juga bisa dimanfaatkan untuk cari-cari peluang.“ kudengar istriku berceloteh sambil mencuci [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Naijan Lengkong&#8212;Ketua Umum Agupena&#8212;</p>
<p><img alt="" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/48831_784788022_3257502_n.jpg" class="alignleft" width="180" height="200" />“Keadaan kita tidak mungkin seperti ini terus, Mas. Kenapa tidak mencoba untuk mencari usaha sambilan? Bisnis apa sajalah, yang penting bisa menghasilkan uang untuk menutupi kebutuhan kita. Mas ‘kan masih punya banyak waktu luang. Hari minggu seperti ini juga bisa dimanfaatkan untuk cari-cari peluang.“ kudengar istriku berceloteh sambil mencuci piring di belakang.</p>
<p>“Bisnis apa lagi sih? Aku ini ‘kan cuma seorang guru. Guru Bahasa Indonesia lagi. Jadi tidak punya keahlian lain selain mengajar Bahasa Indonesia. Kecuali kalau aku guru Matematika atau Bahasa Inggris, mudah saja aku mengajar sambilan, les atau privat misalnya. Lagipula waktu luangku selama ini aku gunakan untuk menulis cerpen atau artikel. Dan menulis itulah bisnis sambilanku selama ini karena memang itulah keahlianku.“</p>
<p>Aku diam sejenak menunggu reaksi istriku. Kutengguk habis sisa the manis buatan istriku yang ada dihadapanku. Aku tidak mendengar tanggapan darinya. Lalu kulanjutkan pembelaaku : “ Kamu juga harus maklum, mana ada sih guru yang kaya dari hasil mengajar? Paling jual warisan kalau mau cepat kaya. Itupun kalau masih ada. Lha kalau aku ini warisan darimana? Harta warisan keluargaku sudah habis sebelum aku dilahirkan. Penulis juga sama. Mana ada penulis yang kaya raya dari hasil tulisannya. Kalaupun ada biasanya penulis tua yang sudah puluhan tahun malang – melintang di dunia kepengarangan. Sedangkan aku belum sepuluh tahun jadi penulis, itupun penulis sambilan. Apalagi masa krisis seperti sekarang ini. Surat kabar kebanyakan lebih mengutamakan pemuatan tulisan yang tidak meminta honor. Tulisan yang dimuat saat ini kebanyakan orang-orang lama yang memang telah lama dikenal dan dekat dengan redaktur.“</p>
<p>“ Mas ini bagaimana sih? Kok pasrah begitu? Pak Burhan, teman Mas mengajar itu bisa kaya tanpa jual warisan. Punya mobil, rumah besar dan barang-barang mewah. Mas Joni, temanmu yang wartawan itu juga kaya. Malah punya villa di Puncak. Pak Burhan itu guru. Mas Joni itu penulis. Mereka bisa kaya, Mas sendiri ‘ kan guru dan juga penulis, kenapa tidak bisa seperti mereka?“</p>
<p>Burhan? Joni? Bah! Muak aku mendengar nama mereka. Orang lain boleh kagum pada mereka. Tapi aku, nanti dulu. Bagiku, Burhan dan Jono adalah para bajingan tengik. Burhan adalah guru yang paling brengsek yang pernah kukenal selama sepuluh tahun menjadi guru. Dia datang ke sekolah pada pagi hari untuk setor muka dan mengisi absensi. Terus menitipkan tugas pada guru piket untuk anak-anak dikelas. Lalu dia pergi entah kemana. Kedunianya sendiri tentunya. Alasannya macam-macam, bisnis ini atau bisnis itu. Sampai bubaran sekolah dia tidak pernah kembali lagi. Lalu datang pada pagi hari berikutnya dan pergi lagi. Begitulah setiap hari. Mengajar penuh di sekolah paling satu hari dalam satu minggu. Satu bulan sekali dia memberi ulangan pada siswa-siswanya, walaupun tidak pernah dikoreksinya. Lalu dia minta para ketua kelas mengumpulkan sejumlah uang yang alasannya untuk biaya fotokopi soal-soal. Padahal untuk fotokopi soal dia sudah minta uang pada bendahara sekolah yang selalu berbaik hati padanya. Anehnya kepala sekolah tidak pernah menegurnya. Kalau aku jadi kepala sekolah, sudah kutendang jauh-jauh guru brengsek itu.</p>
<p>Lalu Joni, dia tak lebih seorang bandit yang berwajah wartawan. Aku masih sangsi apakah wartawan seperti dia itu tahu kode etik jurnalistik atau tidak. Beberapa waktu yang lalu dia berhasil memeras seorang kepala desa yang diketahui menjual satu hektar tanah bengkok kepada pengembang perumahan di daerah kami. Dia mengancam akan memberikan skandal ini di surat kabar tempatnya bekerja kalau kepala desa itu tidak memberikannya sejumlah uang. Jumlahnyapun tidan tanggung-tanggung. Lima puluh juta rupiah. Joni menang. Walaupun dongkol, sang Kepala Desa memberikan uang itu. Ini lebih baik ketimbang dia masuk penjara dan uangnya yang jumlahnya hampir setengah miliar itu harus disita. Pernah pula Joni memeras seorang kepala sekolah menengah negeri yang terbukti menyelewengkan dana sumbangan pendidikan. Melalui seorang staf disekolah itu, yang ternyata adalah kawan baiknya. Joni berhasil membuktikan adanya penyelewengan dana itu. Dan dia berhasil menjarah separuh dari jumlah uang yang telah diselewengkan oleh Kepala Sekolah tersebut, yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah. Terakhir dia berhasil memergoki seorang pejabat Pemda yang sudah dikenalnya sedang berselingkuh dengan istri bawahannya dikantor. Joni memang sudah lama mengincarnya. Dan untuk memyumbat Joni sang pejabat terpaksa mengeluarkan uang jutaan rupiah. Joni selalu berhasil menaklukan korbannya dengan ancaman akan membeberkan skandal mereka di surat kabarnya. Melihat perilaku jurnalistiknya itu, bagiku Joni itu adalah pelacur jurnalistik.<br />
*****</p>
<p>“Tadi Pak Syukur datang “</p>
<p>Aku tertegun menatap istriku.</p>
<p>“Ada apa dia datang? Tidak biasanya dia datang tanpa kabar terlebih dahulu. Sewa rumah kita ‘ kan masih dua bulan lagi?“</p>
<p>“Dia bilang sewa rumah ini tidak bisa diperpanjang lagi. Katanya rumah ini mau dijual. Dia butuh uang mendesak untuk biaya pengobatan istrinya dan untuk biaya kuliah anaknya. Pembeli sudah ada.“</p>
<p>Aku bungkam, Pikiranku tiba-tiba jadi kacau. Tidak pernah terpikir dalam benakku kalau kami harus pindah rumah secepat itu. Satu bulan sebelumnya aku bertemu dengan Pak Syukur di rumahnya. Kami telah sepakat bahwa aku akan memperpanjang sewa rumah untuk dua tahun berikutnya dan akan kulunasi uang sewanya satu bulan setelah masa kontraknya yang lama berakhir. Aku sengaja minta tenggang waktu karena harus menunggu turunnya uang pinjaman dari koperasi sekolah. </p>
<p>Tapi kalau begini kondisinya, darimana aku dapat uang untuk mencari rumah kontrakan yang baru? Selain itu, Jamal anak pertama kami sudah sekolah di Taman Kanak-kanak yang lokasinya berdekatan dengan tempat tinggal kami. Itu berarti kami harus mencari rumah sewa baru yang letaknya tidak terlalu berjauhan dari tempat tinggal yang sedang kami tempati agar memudahkan Jamal bersekolah. Dan itu tidak mudah, apa lagi mencari yang murah seperti rumah Pak Syukur.</p>
<p>“Sayang yah, Mas, kalau kita tinggalkan rumah ini, “ ucap Istriku lirih. </p>
<p>“Seandainya kita ada uang, alangkah enaknya kalau kita yang membeli rumah ini.“</p>
<p>Kata-kata istriku itu betul-betul menusuk perasaanku. Seakan-akan dia menyesali ketidakmampuanku. Walaupun begitu aku tahu bahwa dia tidak bermaksud untuk itu.<br />
*****</p>
<p>Burhan hanya tertawa lebar ketika aku bercerita tentang masalah yang sedang aku hadapi. Entah apa yang ditertawakannya. Yang jelas aku memang ingin mencari peluang bisnis sambilan. Dan satu-satunya teman yang bisa aku andalkan adalah Burhan. Mungkin itu sebabnya Burhan menertawakan diriku. Aku yang selama ini selalu menolak diajaknya berbisnis, diajak naik mobil sedan menterengnya saja, yang konon dia bilang hasil bisnis sambilan itu, aku tidak pernah mau, Itu karena aku memang pernah tersinggung oleh kata-katanya dulu. “Kau ini jadi guru janganlah terlalu idealis. Kalau terlalu idealis, kau tidak akan bisa makan enak, punya rumah, dan kendaraan pribadi. Selamanya kamu tinggal di rumah kontrakan. Bepergian naik bus umum berdesakan. Makanpun sekenanya, cuma nasi dan ikan asin.“ Begitulah dia pernah bilang.</p>
<p>“Sudahlah, kau jangan berpikir macam-macam. Aku ada peluang kalau kau memang mau serius. Kemarin ada seorang bos datang padaku. Di bilang sedang mencari telepon genggam dalam jumlah besar untuk show roomnya. Dia butuh seribu unit.  Masalah harga bisa diatur. Yang penting barangnya ada dulu. Dia sanggup bagi komisi sebesar lima puluh persen dari total transaksi”.</p>
<p>Aku terbelalak. “Seribu unit telepon gengggam dengan komsi lima puluh persen?“</p>
<p>‘Iya, kenapa?“</p>
<p>“Mana ada orang mau bagi komisi sebesar itu?“</p>
<p>“Kenapa tidak? Rudi Ramli bos Bank Bali berani kasih komisi lebih dari lima puluh persen buat Setya Novanto dan kawan – kawannya. </p>
<p>Nominalnya lebih dari lima ratus miliar alias setengah triliun rupiah. Sedangkan komisi buat kita, kalau ini berhasil, tidak lebih dari lima ratus juta rupiah”.</p>
<p>“Tapi mencari orang yang menjual telepon genggam dalam jumlah sebanyak itu tidak mudah. Apalagi di masa krisis seperti sekarang ini.“</p>
<p>“Itulah. Makanya dia berani kasih komisi besar buat kita.“</p>
<p>“Kenapa dia tidak beli langsung ke pabrik?“</p>
<p>“Kau ini. Dia itu ingin beli dengan harga miring. Dan dia dapat itu hanya dari jalur mediator. Mereka pasti tahu jalurnya.“<br />
Aku mengerti sekarang. Satu-satunya kawan yang bisa aku hubungi dalam masalah ini adalah Joni. Dan ternyata Joni memang sangat antusias ketika aku paparkan semua pesanan yang aku dapatkan dari Burhan. “Tunggulah dua hari lagi, aku akan hubungi kamu lagi.‘ katanya meyakinkan. Dua hari kemudian Joni memang menepati janjinya. Dia datang sambi membawa beberapa lembar foto ukuran postcard.</p>
<p>“Ini foto sebagian dari barang-barang yang ditawarkan. Jumlahnya tepat seribu buah seperti yang kau pesan.“</p>
<p>Aku berdecak kagum melihatnya. Ratusan telepon genggam yang tersusun rapi terpampang disana. Berarti angan-anganku hampir menjadi kenyataan. Hari itu juga foto-foto itu aku serahkan kepada Burhan untuk kemudian diteruskan kepada calon pembeli.</p>
<p>Keesokan harinya, Ahmad, guru Agama Islam datang menemuiku di kantor guru.</p>
<p>“Kamu ikut bisnis sama Burhan, Jan?” tanyanya.</p>
<p>“Iya, memangnya kenapa?”</p>
<p>“Kalau masih ada cara lain, janganlah ikut-ikutan bisnis sama dia. Dia itu mafia. Salah-salah kamulah yang celaka.”<br />
Aku hanya tersenyum dan tidak menggubris kata-katanya. Aku pikir dia pasti iri melihat keberhasilan aku dan Burhan.</p>
<p>“Terserah kaulah Jan. Aku cuma mengingatkan. Itu juga kalau kamu mau terima.” katanya lalu meninggalkanku. Akupun kemudian tak mempedulikannya lagi.</p>
<p>Kemudian setelah melalui lobi yang panjang dan alot dengan perantaraan Burhan dan Joni, tercapailah kesepakatan jual beli, termasuk kesepakatan tentang komisi untuk kami bertiga.</p>
<p>Pada hari yang telah disepakati, Joni menjemputku dirumah. Hari itu adalah hari yang menentukan masa depan kami. Istriku nampak ceria mengiringi kepergianku. Joni langsung membawaku kerumah penjual yang terletak di sebuah perumahan elit di Jakarta Selatan, dimana transaksi jual beli akan dilakukan. Ketika sampai dirumah besar dan mewah itu, kami disambut oleh empat laki-laki berpakaian necis dan parlente. Semuanya berbadan tegap dan kekar. Tidak berapa lama kemudian Burhan datang disertai calon pembeli. Kamipun diperkenalkan oleh Burhan kepada dua orang yang menyertainya. Orang yang pertama bertubuh gendut layaknya seorang bos. Sudiro, demikianlah dia memperkanalkan diri. Yang satunya lagi nampaknya memang pengawalnya, karena berbadan tegap dan kekar serta menenteng koper besar yang kami duga berisi uang karena berdasarkan kesepakatan pembayaran dilakukan secara kontan.</p>
<p>Sebelum transaksi dimulai, kami dipersilahkan melakukan pengecekan atas seluruh barang yang akan dibeli. Kami kemudian dipersilahkan memasuki sebuah ruangan besar di bagian belakang rumah yang lebih mirip sebagai gudang. Ketika memasuki ruangan yang berukuran kira-kira sepuluh kali sepuluh meter persegi itu aku benar-benar terpana. Ditengah-tengah ruangan terdapat ratusan telepon genggam yang tersusun rapi diatas rak kayu. Pak Sudiro meminta pengawalnya menghitung jumlah barang yang ada.</p>
<p>“ Angan-anganmu untuk membeli rumah sendiri akan kesampaian, “ bisik Burhan di telingaku. Aku memang masih gugup melihat pemandangan di depanku. Terasa mimpi saja. Ternyata tidak sukar bagiku mendapatkan uang ratusan juta rupiah dalam waktu hanya beberapa hari saja. Terbayang dibenakku kegembiraan anak-anak dan istriku bermain dirumah baru dan besar yang kubeli dari hasil bisnis sambilan.</p>
<p>Baru saja Pak Sudiro selesai melakukan perhitungan, tiba-tiba terdengar pintu depan didobrak orang dan serombongan orang bersenjata menerobos ke ruang belakang melalui ruang tamu.</p>
<p>“Angkat tangan! jangan bergerak!“</p>
<p>Kami semua terhenyak. Jantungku berdetak keras. Sepintas terpikir dalam benakku bahwa kami sedang dirampok. Tapi sebagaian dari mereka berseragam polisi sehingga aku berpikir lain.</p>
<p>“Semua tetap ditempat! Tempat ini telah kami kepung!“</p>
<p>Kami semua tidak terkutik karena puluhan laras senjata api mengarah pada kami. Serentak kami digeladah dan diborgol. Aku menggigil. Kini aku semakin yakin bahwa ini adalah penggerebekan. Anehnya Pak Sudiro tidak diborgol. Dia malah kelihatan tersenyum puas. Dan orang yang berlagak sebagai pengawal itu malah ikut menggeledah seisi rumah dan mengeluarkan borgol dari sakunya dan menyarungkan ketangan salah seorang penghuni rumah itu. Dengan kasar mereka menggelandang kami satu persatu keluar rumah menuju mobil kijang patroli yang sudah siap di depan rumah itu. Dari sana kami dibawa ke kantor polisi terdekat.<br />
*****</p>
<p>Setelah melalui introgasi yang lama dan melelahkan, sadarlah aku bahwa kami dijebak. Pak Sudiro berpura-pura ingin membeli barang-barang itu. Yang sebenarnya adalah Pak Sudiro itu anggota polisi yang sedang menyamar. Sedangkan teman-teman Joni adalah para perampok yang telah menjarah barang-barang itu dari gudang milik seorang pengusaha pemasok handphone. Dan dengan taktiknya itu Pak Sudiro memang telah berhasil menemukan barang-barang curian itu dan sekaligus menjebak kami. Dan kini Aku, Burhan, dan Joni harus meringkuk di sel bersama dengan para perampok itu. Sesuatu yang tidak pernah terbayang dalam benakku, bahkan dalam mimpi sekalipun. Ya Tuhan, kenapa jadi begini? Ingin rasanya aku menjerit dan menangis sekeras-kerasnya membahayakan ini semua. Dan tangisku memang benar-benar tidak dapat dibendung ketika istriku datang untuk menjengukku untuk pertama kalinya sampai menuntun Jamal yang masih berseragam sekolahnya dan menggendong Jamilah puteri bungsuku.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupena.org/wp/2011/04/22/cerpen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

